Madyapadma35

XXXV Family

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording P3RIODISTA

Proses pembuatan kording oleh kelompok P3RIODISTA .

Behind The Scene Kording 3LANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording SEARCH3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording TRI FIV3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording CR35TAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cr35tal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cr35tal. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Cerpen : Cinta Yang Terhalang Dimensi Waktu

     Namaku Rony , aku seorang anak pengusaha terkenal no 1di Jakarta . Banyak yang bilang kalau aku itu ganteng dan juga pintar. Semua cewek pun bisa ku taklukan hanya dalam sekejap mata. Pagi itu ,aku beranjak dari tempat tidur ku untuk memulai kegiatan ku di hari pertamaku belajar di SMA ter- elite di Jakarta .“Den Rony, bangun , sudah siang. Nanti terlambat berangkat sekolah .” kata bibi iyem seorang pembantu yang sudah bekerja selama 10  tahun di rumahku . “Iya bi, aku sudah bangun kok“ jawabku . Aku pun selesai mandi dan langsung bergegas berangkat mobil yang baru diberikan oleh ayahku. Aku pun sampai di sekolah termahal itu yang sering di banggakan oleh orang orang di sekitar rumah ku . Aku pun mulai menjalani kegiatan ku di sekolah itu. Tidak sengaja , aku menabrak dengan seorang gadis cantik dengan paras nya yang seperti putri dari istana megah . “Maaf, ak tidak sengaja“ ujarku .“Iya, ku juga maw minta maaf udah menabrakmu“ balasnya. Hati ku berdegup bagaikan gempa bumi yang sangat dahsyat. Apakah ini yang dinamakan cinta ??? “Rasa nya baru kali ini aku merasakan hal aneh seperti ini“ ungkap dalam hati. Jam pun sudah menunjukkan pukul 07.30, aku pun beranjak menuju kelas . Tidak ku sangka , ternyata cewek yang tadi aku tabrak itu sekelas dengan ku . Perasaan aneh yang dulu sudah hilang pun muncul kembali dalam hati ku. Dia pun duduk bersebelahan dengan ku , dan aku pun berkenalan dengan nya. Ternyata gadis yang telah berhasil membuat hatiku bagai gempai bumi adalah Vina, seorang gadis miskin yang mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disini. Aku pun mulai berbasa basi dengan nya. Begitu senangnya aku bisa berbicara dengannya. Teeeet.....teeet waktu istirahat pun terlentingkan , Vina pun bergegas pergi menuju kantin. “Sialan, kok pake bunyi segala itu bel, kan aku jadin gak dapet ngobrol panjang lebar sama Vina“ ungkapku dalam hati. Saat dikantin, aku pun kaget dengan apa yang aku lihat. Ternyata, Vina itu membantu seorang ibu penjual yang sedang berjualan di kantin, dan ternyata ibu yang berjualan di kantin itu adalah ibu nya Vina. Jam sekolah pun telah usai , aku pun  mengambil mobil di parkiran . Aku pun melihat Vina sedang kesusahan membawa barang dagangan ibu nya tadi . Tidak memikir lama, aku pun mendatangi dia untuk memberikan bantuan.”Vin, mari aku bantu! Taruh saja barang jualan mu di mobil ku, biarku antar kamu sampai rumahmu“ kata ku. “Tidak Ron, makasi. Aku tidak ingin merepotkan mu dan aku juga tidak pantas naik mobil semewah ini” balasnya dengan muka murung. “Tidak papa, mari masuk “ kata ku. “Hmmm….Baiklah” balasnya dengan muka trsenyum. Aku begitu senang bisa mengantar cewek yang telah membuatku jatuh cinta kepadanya. 5 bulan aku PDKT dengan nya, sampai suatu saat, aku pun mengatakan yang aku rasakan. Dan akhirnya setelah aku memberika penjelasan tentang perasaanku, dia pun menerima ku. Selama 3 tahun, aku menjalani hubungan bersama Vina. Disuatu saat, selama 1 bulan dia tidak pernah memberikan kabar kepadaku. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun berinisiatif pergi kerumahnya di kampung. Saat dijalan, aku melihat ibu Vina sedang memanen pagi di ladang. Aku pun pergi  menemui Ibu Vina, “ Bu, bagaimana kabar ibu ? kalau boleh tahu, apakah Vina berada disini?”, ujarku. “Oh .. Rony. Ibu baik aja nak, Vina …?”balasnya. “Vina…vina kenapa bu?”balasku bingung. Ibu Vina pun langsung melepas capingnya, “Sini ikut Ibu”, ujarnya yang begitu misterius. Aku pun mengikuti Ibu itu dengan perasaan yang cemas. Tiba-tiba terlihat gubuk kecil yang terletak di bawah kolong di sebuah desa. “Silahkan duduk nak, maaf kalau rumahnya kotor.” Ujar ibu itu . “Iya bu, tidak apa-apa.” Jawabku tersenyum. “Tunggu ya, ibu ambilkan minum”, masuk kedalam dapur. Tiba-tiba ibu Vina datang dengan membawa the dan sebuah kotak yang dulu pernah aku berikan kepada Vina. “Ini nak minumnya, oya ini ada titipan dari Vina. Dia mengatakan terima kasih atas barang-barang yang pernah nak Rony berikan kepada dia”, ujar beliau semabri menangis. “Maksud Ibu? Apa arti dari semua ini Bu? Dimana Vina ?”, ujarku gelisah melihat semua yang terjadi. “Sepertinya Ibu harus menunjukkan sesuatu kepadamu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sini ikuti Ibu..”ujar Ibu Vina. Aku pun mengikuti kemana ibu Vina pergi. Kita pun masuk kepelosok hutan yang ada di Desa tempat tinggal Vina. setengah jam berjalan, tiba-tiba Ibu Vina berhenti di suatu tempat yang penuh dengan batu nisan. “Bu.. apa maksud Ibu mengantarku kesini ? Dimana vina ?”, ujarku sedih. “Hiks..hiks… itu nak, Vina sedang duduk disana”, sambil menunjuk suatu pohon besar. Aku pun berlari menuju pohon besar itu, tiba-tiba dibelakang pohon itu, aku melihat suatu nisan. Aku pun perlahan mendekati nisan itu. Sesaat aku tersetak kaget setelah membaca nama jenazah yang tertulis di batu nisan tersebut. “Tidak…tidak mungkin. Vina kenapa ?”, ujarku sambil meneteskan air mata. Ibu Vina pun mulai mendekatiku, “Yang sabar ya nak, ibu juga sedih melihat keadaan ini”. Ujar Beliau sambil menenangkanku. “Tapi.. kenapa ibu tidak pernah memberitahuku tentang ini?” ujarku kesal. Beliau pun mengeluarkan sebuah surat yang dibuat Vina di detik-detik terakhir menghembuskan nafas, “Ini nak surat dari vina.” ujarnya. Aku pun langsung membaca surat itu. Air mataku tak tertahan setelah membaca surat itu. Ternyata Vina mengidap penyakit tumor otak stadium 4. “Kenapa dia tidak pernah memberitahu ku tentang prnyakitnya ini?”, ujarnya. “Vina melarang ibu untuk memberitahumu nak, dia tidak ingin membuatmu sedih. Biarkan saja Nak Rony yang mengetahuinya sendiri”, ungkap beliau. Aku pun begitu sedih, tidak kusangka wanita yang selama ini aku cintai telah meninggalku sendiri. Ibu Vina pun mengajakku kembali kerumah. Sesampainya dirumah , aku meminta izin pulang. Di Kota aku pun melanjutkan kesekolah Dokter. 6 tahun menimba ilmu, aku pun lulus menjadi seorang dokter. Aku pun pergi ke Desa tempat tinggal Vina dulu. Aku pun membangun sebuah puskesmas yang berada tepat di sebelah rumah vina. Karena Vina pernah bercerita kepadaku kalau dia ingin menjadi seorang dokter. Disana aku merasakan aura Vina yang masih hidup dan bersemaya dipuskesmas itu. Biarpun aku tidak bisa melihat wajah Vina, tapi aku bisa merasakan aura Vina walaupun terhalang dimensi waktu yang berbeda.

Oleh : Yana

Cerpen : Kerinduan Akan Hangatnya Keluarga

Dihari itu, aku terbangun dari tidur lelapku. Dari sudut jendela,mentari pagi telah menyinari seisi dunia dengan diiringi kicauan burung yang merdu sehingga membuat suasana disekitarku hening. Tapi beberapa saat kemudian , tiba-tiba suara piring jatuh dan tamparan Papa ke Mama menggantikan keheningan yang kurasakan.
    Hari itu, yang menemaniku hanyalah si Bibi. Si bibi sudah seperti mama kandungku, karena ialah yang merawatku dari bayi sampai sekarang. “Non , Non gak sarapan dulu?” , ujar bibi. “Gak Bi, Cinta udah kesiangan nih” ujarku. “Iya, non hati-hati ya! Kalau ada apa-apa telpon bibi” , ujarnya.“Iya Bi, nggak usak khawatir”, jawabku.
     Sepulang sekolah , aku telah ditunggu oleh pacarku yang setia, Rama. Dialah yang selalu ada disaat aku suka maupun duka. “Hai Cinta, jadi kita makan siang dan nonton hari ini ?” tanyanya.
“Iya jadi dong. Ya udah, kita berangkat sekarang aja yuk.” Disana pun membuatku melupakan semua masalah yang telah menimpaku tadi.
      Malamnya, aku ada janji dengan dokter langganan keluargaku di Rumah Sakit. Sesampainya disana, aku terkejut. Dokter mengatakan, “Cinta,kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Mak ..maksud Dokter ?”, tanyaku gugup.“Maaf sebelumnya. Cinta, kamu mengidap penyakit tumor otak stadium 4, yang sudah tidak dapat disembuhkan. Sebaiknya kamu mengatakan ini kepada orang tuamu.”
“Tidak , Dok … Cinta nggak mau seseorang tau tentang hal ini.”
“Tapi …..”
“Cinta mohon, biar ini jadi rahasia kita berdua ya Dok.”
“ … Baiklah kalau begitu.”
       Di perjalanan menuju rumah, aku pun terus memikirkan masalah tadi. “Tuhan, masalah yang satu belum selesai engapa masalah lain datang?” batinku berkata.
     Sesampainya dirumah, aku disambut lagi dengan pertengkaran dan kegaduhan yang dibuat oleh kedua orang tuaku, sampai-sampai tetangga di sebelah rumahku datang untuk melihatnya. Aku sungguh malu, secepatnya aku beranjak menuju kamarku. Didalam kamar aku menggerutu, “Kenapa sih mereka selalu bertengkar ? Apakah mereka tidak mengenal waktu untuk bertengkar ? Apakah setiap pagi tidak cukup ?”
    Bibi pun datang dan berkata “Non, non tidak boleh berkata seperti itu”, sambil menenangkanku.“Biarin aja Bi, apa itu yang mereka sebut diri mereka orang tua ? yang satu selingkuh, yang satu nggak pernah ada dirumah! Lebih baik Cinta nggak pernah punya orang tua Bi!”.  “Tapi Non, biar bagaimana pun mereka tetap orang tua Non, yang merawat Non dari kecil sampai sekarang.” Aku hanya bisa menangis. Dibenakku aku masih memikirkan penyakitku ini. Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan                  
     Hari ini, tepat tanggal 14 Februari , yang merupakan hari special bagiku. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Tapi apa yang kudapat ? Hanya pertengkaran Mama dan Papa. Padahal aku berharap hari ini adalah hari disaat aku melihat Mama dan Papa ku tersenyum dan berkumpul bersama, walau hanya satu hari saja aku dapat menikmatinya disaat ulang tahunku yang ke 17 ini.  Papa dan Mama memberikan ku nama Cinta, agar aku selalu mendapatkan cinta kasih sayang dari siapapun. Tapi semua itu tidak benar.                    
     Pagi-pagi benar aku mendapat pesan singkat dari Rama.
 “Happy Birthday ya Sayang, semoga pada ulang tahunmu ini, kamu selalu dilimpahkan kasih saying dan diberikan umur yang panjang.” Aku sangat bahagia sekaligus sedih saat membacanya.
     Sesampainya disekolah, teman-temanku memberikan kado buatku, sekaligus merayakan Hari Valentine. “Happy Birthday ya Cin, semoga kamu tambah cantik dan panjang umur” , ujar sahabatku , Sinta , Indah dan Lutvi.
     Sore harinya aku bersama teman-teman merayakan ulang tahunku disebuah restoran berpanorama Sunset yang indah dan menawan. Disana aku dan eman-teman bersuka ria bersama. “Happy Birthday to you …” lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar begitu merdu. Namun , pada tengah-tengah acara aku terkulai lemas tak sadarkan diri. Rama yang ada disampingku begitu panik dan langsung membawaku kerumah sakit. Tanpa sadar, aku telah berada dirumah sakit. Dan saat ku membuka mata, aku melihat Mama dan Papa berada disampingku. “Cinta, kamu harus bertahan Nak. Maafkan Mama dan Papa yang telah menyia-nyiakanmu selama ini dan tidak pernah menemanimu.”
 “Iya Ma, Pa. Satu hal yang ingin Cinta minta dari Mama dan Papa” , ujarku lemah.
 “Apa Nak ? sebisa mungkin Mama dan Papa akan memenuhinya.”
“Cinta hanya minta Mama dan Papa untuk tersenyum. Cinta ingin sekali melihat senyuman kalian yang sudah lama sekali tidak Cinta lihat.” Mereka pun mulai tersenyum kepadaku dan aku ppun membalas senyuman itu. Samar-samar kurasakan, nafasku berhenti berhembus, jantungku berhenti berdegup, darahku berhenti mengalir, dan pandangan disekitarku menjadi gelap.
     Dalam senyuman terakhirku, aku merasa lega dan tersirat bahwa aku ingin mengatakan “Aku sangat merindukan kehangatan keluarga, terutama dari Mama dan Papa.” 

Oleh : Yana

Cerpen : Jangan Lupakan

Kesya Anastasia Andita. Ia akrab disapa Kesya. Sampai sekarang nama itu masih terngiang dalam pikiranku. Kadang, dalam lamunanku, terbayang kembali tawanya yang manis. Tawa yang merdu dan penuh keceriaan yang dibuat-buat, tawa yang tidak lepas. Seringkali aku sendiri bertanya-tanya, apakah tidak ada orang lain selain aku yang menyadari sesuatu yang aneh dalam tawanya itu? Senyumnya pun amat berat dan sendu, seolah ia tidak memilki sesuatu yang membuatnya bahagia, dan juga derita. Namun, aku tidak pernah terlalu ambil pusing dengan hal-hal semacam itu.
    Aku dan Kesya saling mengenal sejak 4 tahun lalu, di kelas VA. Ya, aku dan Kesya sama-sama menduduki posisi 20 besar saat itu sehingga kami di tempatkan di kelas VA. Di sini hampir tak seorang pun mau menjadikanku teman, entahlah alasan apa yang membuat mereka tidak mau berteman denganku. Kesya adalah satu dari sedikit sekali orang yang mau berteman denganku. Jadilah kami di sini menjadi teman satu kelas. Lambat laun kami pun berteman. Mungkin boleh dibilang aku ini sahabatnya. Menurut Kesya, ia masuk kelas VA karena sebuah keterpaksaan bukan niatnya sendiri ingin masuk kelas unggulan tersebut, ia dipaksa oleh orang tuanya agar terus belajar, belajar dan belajar hampir waktu yang ia punya dgunakan untuk belajar agar dia bisa masuk kelas unggulan. Mungkin itu sebuah alasan yang masuk akal mengapa tidak ada satu pun orang yang ingin berteman dengannya dan dia menjadi seseorang yang cukup pendiam dan egois.
    Banyak anak laki-laki di kelas mengagumi Kesya karena cara tutur katanya yang lemah lembut dan santun, tetapi Kesya tak pernah memedulikan mereka. Bagi Kesya, hal terpenting dalam hidupnya ada dua : orang tua yang selalu mengerti akan keadaannya serta sahabat. Cukup. Namun ternyata, kriteria hidup ala Kesya yang sekilas tampak sederhana ini, tak satu pun terpenuhi dengan baik. Mungkin itu sebabnya ia tak pernah terlihat bahagia sebenar-benarnya. Memang, dalam acara-acara sederhana yang dilakukan sekolah dia ikut melebur dalam tawa, tapi terkesan itu hanya formalitas saja. Sekedar etika yang harus dipatuhinya agar tidak merusak keceriaan orang-orang di  sekitarnya. Kesya lebih banyak menyendiri di perpustakaan, tenggelam dalam lamunan. Seolah hanya tubuhnya yang hadir di situ, tapi jiwanya menerawang ke tempat lain. Ke masa lampau, ke dalam kenangan, atau mungkin berkelana ke alam mimpi. Ke tempat ia merajut harapannya, yang kemudian terkoyak bila ia kembali ke dunia nyata. Kadang-kadang bila aku meliriknya saat kami sedang bersenda gurau, Kesya tertawa hambar, sekedar menyumbang suara. Bibirnya memang tersenyum, suaranya memang terdengar tapi matanya tidak dapat mengelabui. Bila diperhatikan dengan seksama dalam mata kelabu Kesya yang indah, ada sesuatu yang lain. Seperti mencerminkan bahwa ada kehampaan dalam dirinya. Kekosongan yang tersembunyi dalam ruang hatinya. Yang mungkin dulu terisi oleh suatu kebahagiaan yang kemudian direnggut darinya. Kesepian yang tidak dapat terobati oleh apapun, kecuali kebahagiaan itu diperolehnya kembali. Namun, sayang, tidak ada yang mau repot-repot memperhatikan seperti itu. Kami semua, anak-anak kelas VA, amat sangat sibuk sehingga bila ada perayaan atau sejenisnya, kami langsung meleburkan diri dalam keceriaan, kehidupan indah masa kanak-kanak yang tak sempat kami rasakan.
    Kisah Kesya, yang baru kuketahui setelah Kesya meninggalkan kelas ini, cukup menyentuhku sehingga tak ada salahnya bila kuceritakan pada kalian semua. Here we go...
    ”Tahukan kau? Hidup ini sangat menyebalkan. Masa sudah 5 tahun kita sekolah disini, tidak ada sedikit pun perubahan yang berarti, yang bisa membuat kita bahagia ? Dunia ini keterlaluan, pilih kasih ! Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya kasih sayang dari orang tua, aku ingin seperti anak-anak lain yang bisa bermain dengan bebas. Bukan seperti ini yang kuinginkan, setiap malam aku selalu mendapat pukulan , omelan , hinaan dari orang tuaku sendiri! Sungguh Tuhan begitu tidak adil bagiku!” Untuk kesekian kalinya Kesya mengeluh tentang kehidupannya. Kata-kata semacam itu sudah seperti nyanyian hidup yang selalu terngiang di telingaku, karena saking seringnya Kesya mengomel tentang dunia yang dianggapnya tidak adil.
    ”Terima saja, Kes, kau mengomel seperti ini juga tidak menyelesaikan masalah. Yang penting kita bisa belajar dan sekolah seperti anak-anak lain. Masih banyak anak-anak yang tidak seberuntung kita diluar sana, kita syukuri saja apa yang ada sekarang. Kalau kita anggap hidup ini menderita, kita akan menilai orang lain selalu lebih bahagia, dan itu Cuma memperburuk keadaan! ”
    ”Mungkin kata-katamu memang benar,” kata Kesya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia tertawa kecil, tawa dalam yang seakan menghina dunia yang amat bijaksana, kemudian ia mendengus penuh penat.
    ”Dunia pilih kasih, itu tidak salah. Masalah kita bukan itu, masalah kita adalah bagaimana supaya kasih dunia juga tercurah pada kita.” gumamku sendiri.
    Ketika jam istirahat, aku dan Kesya selalu menuju perpustakaan sembari menghilangkan rasa jenuh yang membelenggu dalam kehidupan kami. Kalau kuperhatikan, Kesya selalu belajar lebih keras daripada yang lain. Ia selalu merasa harus menjadi yang no 1 agar bisa hidup seang dan membahagiakan kedua orang tuanya. Akhir-akhir ini Kesya sering mengeluh pusing-pusing, tapi aku menganggapnya biasa. Paling aku hanya menyuruhnya istirahat di ruang UKS. Pernah aku menyuruhnya ke dokter, dan disambut dengan cerocosan panjang lebar ”memangnya kau pikir orang tuaku akan memikirkan keadaanku, mana pernah mereka menanyakan apa aku sakit atau tidak ! Yang mereka pikirkan hanya kesenangan mereka, mereka tidak pernah memperdulikan keadaanku. Apa aku terlalu hina jadi anak mereka ? sehingga mereka memperlakukan aku seperti ini!” Sejak itu aku jera memberinya nasihat macam-macam, lebih baik suruh saja dia istirahat, tidur, pokoknya apa pun untuk mendiamkannya. Di depan orang-orang Kesya memang terlihat pendiam dan penuh beban, tapi entah kenapa disetiap menjelang pulang sekolah dia berubah menjadi orang yang amat gemar mengeluh. Satu yang sama : ia tetap terlihat penuh beban. Kadang aku kasihan juga padanya.
     Minggu pagi, kami mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru di sekolah. Aku dan Kesya mendapatkan tugas untuk meneliti tumbuhan yang ada disekitar lingkungan kami. Berbekal pulpen dan mini book kami mulai meneliti tumbuhan disekitar rumah. Setelah selesai, kami berjalan menuju rumahku yang tidak terlalu jauh dari tempat kami tadi. Entah kenapa hari itu matahari bersinar amat terik.
    ”Duh panas banget,” ujar Kesya sembari menutupi wajahnya dengan tangan. Bulir-bulir peluh menetes di sekujur tubuhnya. Aku menyipitkan mata, sinar matahari terasa amat menyilaukan. ”Duh panas!” keluh Kesya lagi.
    ”Iya, aku juuga tahu kalau hari ini panas, Kes. Berhenti mengomel kenapa? Bikin tambah panas aja,” aku betul-betul gerah, dan omelan Kesya sungguh membuat hari ini tambah panas.
    ”Uuuh, aku nggak kuat kalau sepanas ini, Win,” ujarnya lemah. Aku memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan, mencari-cari angkot. Aku tidak menoleh ke arah Kesya, sampai kudengar bunyi ”bruk” pelan dan pulpen serta mini book  yang dibawa Kesya terjatuh. Terkejut, kupalingkan wajahku kearah Kesya, yang kini telah tumbang di jalan aspal tersebut. Aku menjerit kaget, lalu kubantu ia bangun. Kesya pingsan dan aku dilanda kebingungan. Aku melambaikan tanganku asal saja ke arah jalan, aku gusar sekali. Untunglah ada bemo yang berhenti didepan kami, segera aku gotong Kesya kedalam bemo dan menuju rumah sakit terdekat.
    Pukul 16.00 Kesya akhirnya tersadar juga dari pingsannya yang cukup terbilang lama itu. ”Win, apa yang terjadi padaku? Mengapa aku bisa ada disini?,” tanya Kesya padaku. ”Kes, tadi kamu pingsan, karena aku terlalu panik makanya segera kubawa kamu ke rumah sakit dan kata dokter kamu terlalu kecapaian.”kataku.
    Hmmm, aku merasa agak lega sekarang karena Kesya sudah sadar dari pingsannya. Keesokan harinya Kesya tidak masuk sekolah katanya dia mau dioperasi. Dioperasi! Aku kaget, ketakutanku mendengar kata operasi meraja-lela di pikiranku, aku pun bermaksud pulang sekolah nanti ingin membesuk Kesya di rumah sakit.
    Tiba di rumah sakit....
    Tibanya aku disana Ibu Kesya mengantarkanku ke ruangan tempat Kesya dirawat, kemudian dia keluar dan meninggalkanku berdua dengan Kesya. Kesya terlihat senang saatku datang. Sebelum itu aku sempat berbasa-basi dengannya, tetapi itu tak lama karena tiba-tiba Kesya mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku syok saat itu. ”Aku udak gak kuat lagi Win, aku udah pasrah, aku rela jika Tuhan memanggilku sekarang,” dengan pelan Kesya mengatakan.
    Aku kaget mendengar perkataan Kesya. Baru tadi aku berdoa, berharap supaya Kesya kuat dengan keadaannya ini.Aku bingung, aku pingin nangis melihat keadaan Kesya. Wajar saja kalau dia sudah berpasrah diri. Dengan wajah yang sangat pucat, aku ngerti kalau dia itu udah gak kuat lagi. Aku yakin kalau keputusannya berpasrah diri itu adalah keputusan yan tepat. Dan, ternyata Kesya ingin meminta bantuanku, makanya dia menginkanku menemuinya. Kesya ingin aku menuliskan sebuah surat untuk keluarganya karena dia tak ingin mengatkannya secara langsung di depan keluarganya. Ia tak ingin keluarganya menangis di depannya.
    Aku merasa sedih saat menulis da mendengarkan apa yang ingin Kesya sampaikan kepada keluarganya. Ia mengatakannya dengan terpatah-patah. Kesya memang anak yang berhati baik. Walaupun ia menderita saki leukimia, sakit yang baru aku ketahui saat ini, dia masih mau dan tidak lupa mengatakan terima kasih kepada keluarganya karena sudah membuatnya bahagia selama hidupnya dan dia ingin meminta maaf karena harus meninggalkan mereka lebih cepat tanpa bisa membalas semua kebaikan keluarganya. Di akhir surat Kesya minta dituliskan sebuah kalimat ”Salam sayang dari Kesya, selamat tinggal”. Seteah itu, dia mengucapkan terima kasih padaku. Kemudian, Kesya memejamkan matanya. Ia pergi meninggalkan semu yang mencintainya. Dia pergi, pergi dengan wajah tersenyum cantik, sangat cantik, beberapa detik kemudian, orang tua dan yang lainnya masuk. Mereka memeluk dan mencium Kesya. Dalam benakku berkata, ”Kau meninggalkan semua orang yang mencintaimu dengan wajah tersenyum. Selamat jalan, Kes.”
    Besoknya... Setelah pemakaman.
    Siang tadi jasad Kesya sudah dimakamkan. Sesuai dengan permintaanya, dia ingin surat ini diberikan kepada keluarganya setelah pemakamanya selesai. Aku memberikannya kepada kakak Kesya dan dia membacakannya di depan keluarganya. Ibu Kesya gak henti-hentinya menangis dan memeluk foto anak gadis satu-satumya itu. Namun, ia masih tetap mendengarkan isi surat yang dibacakan oleh kakak Kesya.
    Aku salut pada Kesya. Ketabahan, ketegaran Kesya selama ini membuat keluarganya bangga padanya walaupun dia sudah tak ada lagi berada bersama keluarganya.
    Sudah 4 tahun Kesya pergi saat ini tapi aku masih tetap menyimpan semua kenangan dari Kesya selama ini. Kesya, semoga kau disana tak pernah melupakanku dan ingatlah lagu yang sering kita nyanyikan selama kita bersama.
Selamat Jalan Kesya

Oleh : Nala

Cerpen : Anak Baru

“Apaa?? Bakal ada orang yang numpang tinggal disini ma? Mama gak salah?” ucap Dila menggelegar.
“Buat apa mama boong? Ya beneranlah. Dia itu anak Tante Sarah, temen mama itu, dia baru keluar dari rehab narkoba, makanya mamanya minta tolong sama mama buat jagain dia biar gak ketemu bandarnya dia yang dulu lagi.” Ucap mama Dila menjelaskan.
“Hah? Baru keluar dari rehab? Apalagi itu ma, bahaya tau. Pokoknya aku gak setuju ada orang lain di rumah kita. Lagian di rumah ini udah gak ada tempat buat dia. Mama jagain anak 1 aja udah repot, malah mau jagain anak orang lain lagi.” Dila mencibir.
“Yang penting papa mama udah setuju, pendapatmu gak penting lagi. Masih ada tempat kok buat dia, di loteng. Jadi kamu harus bantu mama bersihin loteng karena besok dia bakal dateng kesini.” Mama Dila meninggalkannya yang setengah mati menahan gondok. Dila kalah.

“Kenalin, ini Eric, anak tante, dia emang sedikit sengak tapi orangnya baik kok.” Tante Sarah mengenalkan anaknya ke Dila.
Saat Dila mengulurkan tangannya hendak berkenalan, Eric hanya diam.
“Ish sombong.” Desis Dila pelan.
“Eric, nanti kamu sekolah bareng Dila ya, udah tante daftarin di sekolahnya Dila.”
Ivon mengangguk patuh tanpa berkata apa-apa. What the hell, mimpi apa aku semalem? Satu sekolah sama robot ginii  Dila sukses menganga denger ucapan mamanya. Semoga aku gak satu kelas sama anak ini ya tuhaaan, kalo sampe 1 kelas mati aku, Dila memohon dalam hati
Perjalanan Dila ke sekolah sukses membuat anak-anak SMA Kusuma Bangsa menatapnya heran, karena kemanapun dia pergi Eric selalu mengikuti bak bodyguard.  Awalnya Dila sabar tapi akhirnya kesabarannya habis juga.
“Kamu ngapain sih ikutin aku terus? Gak punya kerjaan ya?.” Semprot Dila.
“Aku kan anak baru, lagian cuma kamu yang aku kenal, aku harus ngikutin siapa selain kamu?” Eric membela dirinya.
Wajah Dila seketika memerah. Malu. Ia lupa Eric anak baru sehingga belum tau keadaan sekolahnya.
“Ya udah, kamu dapet kelas X apa? Aku anterin sekarang.”
“Yang bilang aku kelas X siapa? Sok tau. Aku kelas XII tau.” Eric berusaha menyembunyikan tawanya.
“Huaaa. Yayaya. Kelas XII apa kak?” Dila memberi tekanan pada kata ‘kak’ sehingga terdengar seperti menghina.
“Kelas XII IPS 2. Anterin ya dik, hahahaha.” Eric tertawa. Setelah hari itu, mereka semakin akrab.
    Eric terkejut mendengar hasil diagnose dokter yang mengatakan dirinya terkena radang paru-paru. Ternyata penyakit ini diakibatkan dari rokok yang selama ini diisapnya terus menerus. Setelah berhenti menggunakan narkoba, ia tidak bisa berhenti sama sekali, oleh karena itu ia melampiaskannya dengan rokok, itupun sudah dikuranginya sedikit demi sedikit.
“Terus, saya harus gimana dok?” Eric bingung bagaimana cara menjelaskan pada mamanya. Karena selama ini mamanya tau dia sudah benar-benar berhenti.
“Satu-satunya jalan yang terjamin keberhasilannya dengan terapi selama 1 bulan.”
“Dila?”
“Apa?” Dila menjawab dengan ogah.
“Aku mau cerita, tapi jaga rahasiaku baik-baik ya.” Eric menunggu jawaban Dila.
“Iya-iya apaan?”
“Please jangan bilang sama mama. Aku kena penyakit radang paru-paru. Semua gara-gara aku masih merokok. Mama taunya aku udah bersih, tapi aku gak bisa bener-bener berhenti, makanya aku ngelampiasin dengan ngerokok.”
“Tapi kamu sakit Ric, kamu harus kasitau mama kamu.” Dila menyarankan.
Eric sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. Sesekali dia terbatuk-batuk dan menutup mulutnya.  Saat ini sedang jam istirahat, harusnya dia sudah permisi pulang. Tapi dia bertekad setelah menyelesaikannya, dia akan segera pulang.
“Eh, kalo ketemu Dila anak kelas X-1. Kasi ini buat dia ya.” Eric menitip buku catatannya pada temannya.
    Eric mengambil tasnya dan segera pulang. 1 bulan lagi dia akan kembali menemui Dila dan menjelaskan semuanya.
    Dila membuka buku catatan yang ada di genggamannya. Dibolak-baliknya catatan itu. Tapi terlihat seperti catatan biasa, tak ada yang istimewa. Tapi matanya menatap sesuatu yang istimewa, tulisan tangan rapi khas seorang laki-laki.
Untuk Dila,
Ini catatan Eric, lelaki tampan yang selama ini selalu kamu ejek :p. hmm, kamu manis kalo marah :D, jadi aku suka. Jangan cari aku. Aku udah nurutin apa kata-kata kamu. Aku udah kasitau mama. Sekarang aku mau terapi di Surabaya, kata mama biar jauh dari bandarku yang dulu. Tapi aku pasti balik lagi buat kamu. Aku sayang kamu, mau gak jadi pacarku? Harus mau ya, gak mau tau! :p
Hmm, bagi kamu mungkin aku sedikit pengecut nembak lewat catetan gaje kayak gini. Tapi jaga diri baik-baik yaa.
Eric ?
    Dila tersenyum simpul. Ya, dia memang mau, walaupun Eric tidak memaksa ia tetap menerima. Dila akan menunggu hingga Eric kembali untuk menemuinya. Kapanpun itu.

Oleh : Chandrika