Madyapadma35

XXXV Family

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording P3RIODISTA

Proses pembuatan kording oleh kelompok P3RIODISTA .

Behind The Scene Kording 3LANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording SEARCH3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording TRI FIV3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording CR35TAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label TRI FIV3R. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRI FIV3R. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Puisi : Senandung Rindu Untuk Ayah

Di saat ku kecil
Kau selalu memanjakanku
Menyayangi ku, mengerti akan semua yang aku inginkan
Kau selalu ada di samping ku
Disaat aku senang maupun sedih
Disaat aku sakit
Kau merawatku dengan penuh kasih

    Disaat ku mulai beranjak remaja
Kau pergi meninggalkan ku
Kau pergi melanjutkan tugas belajarmu
Tak ada lagi sosok ayah yang selalu memanjakanku
Aku rindu akan hangatnya pelukanmu
Aku rindu akan senyumanmu, tawamu, candamu
Yang selalu mampu membuat semua rasa kesal ku terlupakan

Kini disaat kau kembali
Kau tak lagi mengerti si kecil yang mulai beranjak remaja
Kau tak lagi memahami isi hati si kecil yang selalu kau manjakan
Apakah kau telah berubah ?
Ataukah si kecil mu yang tidak pernah memahami isi hatimu ?

    Si kecil ini tak pernah mengerti apapun tentangmu
Keegoisan ini membuat si kecil merasa di sayang
Kini si kecil sudah remaja
Ayah sudah tidak mengerti apa yang ku rasakan saat ini
Keegoisian ini juga membuat jarak diantara kita semakin lebar
Mungkinkah beban tugas yang kau pikul di pundakmu membuatmu menjadi seperti ini ?
Atau mungkin karena kau sayang pada si kecil
Kau tidak sedikitpun merubah sikapmu pada si kecil
Melainkan si kecil lah yang telah banyak berubah

Kau selalu menasihati si kecil yang mulai beranjak remaja
Tapi si kecil ini selalu menganggapnya sebagai larangan
Kau selalu ingin agar si kecil ini tidak terjerumus
Tapi si kecil selalu mengabaikan semua perkataanmu
Atau mungkin si kecil ini melupakan sesuatu ?
Mungkinkah si kecil lupa akan nasihat yang dahulu pernah kau berikan saat ia masih tak mengerti apapun ?
Atau mungkin si kecil tak pernah mendengarkan semua perkataan yang keluar dari bibirmu

Tapi si kecil takkan pernah melupakan
Betapa besar cinta yang ia miliki untukmu
Betapa sesungguhnya ku menyayangimu
Tuhan aku mohon
Sampaikan rasa sayang si kecil ini untuk ayah
Si kecil ini berjanji takkan lagi mengecewakan ayah
Ayah segalanya untuk si kecil ini
Tanpa ayah si kecil ini bukan apa apa
Hanya seorang remaja manja yang takkan pernah meninggalkan sifat manjanya

Oleh : Anisca Primadwiyani

Puisi : Penyelamat Negeri

Demi bangsa
Kau pertaruhkan nyawamu
Tak segelintir rasa takut
Nampak di raut wajahmu
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri ini

Pejuangku
Hari-harimu dihiasi peperangan
Diwarnai bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang darah itu menyembur dari tubuhmu
Namun semangat tetap menyala di ragamu

Pahlawanku
Kini keinginanmu telah terkabul
Tuk mempertahankan negeri ini
Dari serangan penjajah
Tetesan air mata dan darahmu
Telah terbayarkan dengan kemerdekaan

Pahlawanku
Aku haturkan sembah sujudku
Atas jasa-jasa dan perjuanganmu
Tidurlah dengan tenang
Wahai penyelamat negeri


Oleh : Anisca Primadwiyani

Cerpen : Di Balik Topeng Menyeramkan

Di sebuah desa yang terletak di pedalaman Inggris hiduplah lelaki yang sudah tua renta yang biasa dipanggil Kakek Grim oleh tetangganya. Ia tinggal sendirian di rumahnya yang sangat besar, bahkan terlalu besar untuk ditempati sendirian oleh lelaki sepertinya. Di rumah itu teredapat pekarangan di bagian depan dan belakang rumah yang sangat luas yang ditanami pohon buah-buahan dan berbagai bunga yang sangat indah. Kakek Grim memang sangat suka berkebun, berbagai jenis tanaman bisa ditemukan di pekarangan rumahnya. Tetapi Kakek Grim sering marah jika ada anak-anak di sekitar rumahnya yang mencuri buah dari pekarangnnya. Kakek Grim juga dikenal sebagai kakek yang galak oleh anak-anak di desanya sampai-sampai Kakek Grim dijuluki “Beruang Grizzly” oleh anak-anak di sana. Kecuali John Richard, anak dari suami istri Richard yang merupakan tetangga depan rumah Kakek Grim. John tidak menganggap Kakek Grim sebagai kakej yang galak, karena John tahu sisi lain dari Kakek Grim. John tahu bahwa sebenarnya Kakek Grim kesepian karena ditinggalkan oleh mendiang istrinya karena terkena penyakit Anorexia dan juga tidak mempunyai anak. Kakek Grim sudah menganggap orang tua John sebagai anaknya dan John sebagai cucunya sendiri. Setiap hari John selalu bermain ke rumah Kakek Grim. Disana dia diajari banyak hal, seperti berkebun dan cara merawat tanaman.
Di suatu siang ketika semua anak-anak di desa sudah usai sekolah, Robbert Riddle salah satu teman John yang nakal pulang dari sekolah bersama teman-temannya. Saat mereka melewati rumah Kakek Grim tiba-tiba muncul ide nakalnya ketika melihat pohon apel milik Kakek Grim berbuah lebat.
“ Hei kalian bertiga ! Lihat itu ! “ kata Robbert sambil menunjuk ke atas kepala Jimmy, Dudley, dan Cody.
“Pohon apel di kebun Beruang Grizzly sudah berbuah.” Robbert melanjutkan. “Lalu?” kata Jimmy, “Tentu saja kita ambil ! Jarang-jarang kan kita dapat buah gratis.” kata Robbert sedikit kesal. Dudley teman Robert yang paling suka makan tanpa pikir panjang langsung saja menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide Robbert. Ketika melihat itu Robbert lalu bertanya pada teman-temannya yang lain, “ Bagaimana ? Dudley sudah setuju, tinggal kalian saja.”
“Aku ragu-ragu Rob, bagaimana jika beruang itu tahu ?” Kata Cody.
“Iya Rob, bagaimana kalau sampai beruang itu tahu ?” timpal Jimmy.
“Ya jangan sampai ketahuan dong ! Otak kalian pada kemana sih ? Langsung error gitu habis belajar matematika.” kata Robbert.
“Hmm.... Oke deh aku setuju !” kata Cody.
“Kalau Cody sudah oke aku juga deh.” timpal Jimmy sedikit ragu dengan keputusannya.
“Nah gitu dong.” Kata Robbert gembira, “Tunggu dulu. Siapa yang mau manjat pohon apelnya dan mengambil buah-buahnya ?” Tanya Robbert sambil berfikir.

Setelah berfikir cukup lama, Jimmy dan Cody berkata “Tentu saja kamu Rob. Siapa lagi coba yang pinter manjat pohon kayak monyet di hutan-hutan selain kamu.”
“Oke oke. Aku deh yang manjat pohonya, tapi kalian jaga di bawah ya tangkap buah yang aku petik.” kata Robbert.
“Beres” kata Jimmy, Cody, dan Dudley serempak sambil mengacungkan jempol mereka.
Baru saja Robbert memetik beberapa buah apel, Kakek Grim tiba-tiba muncul dari dalam rumahnya dan melihat Robbert sedang mengambil buah apel dari kebunnya. Saat itu juga Kakek Grim datang menghampiri sambil marah-marah.
“Apa yang kalian lakukan ? Kalian mencuri buah apelku !” Kata Kakek Grim marah.
Seketika itu juga Jimmy, Cody, dam Dudley pergi meninggalkan Robbert yang masih berada di atas pohon. Saat mengetahui kehadiran Kakek Grim, dengan tergesa-gesa Robbert berusaha turun secepat mungkin dari pohon sembari memperhatikan langkah kaki Kakek Grim. Saking tergesa-gesanya ia berusaha turun dari pohon, kakinya tergelincir dan dia pun terjatuh dari pohon sambil menangis kesakitan merasakan sesuatu terjadi pada kakinya. Melihat hal itu Kakek Grim mempercepat langkah kakinya agar bisa segera sampai dan segera menolong Robbert. Disaat yang sama, John sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Saat melihat Robbert menangis, John langsung berlari dan berusaha membantu Kakek Grim membawa Robbert masuk ke dalam rumahnya untuk segera diobati. Disana Robbert diperlakukan sangan baik oleh Kakek Grim. Seketika itu juga pikirannya mengenai Kakek Grim berubah drastis. Di dalam hatinya ia berkata “Tidak ku sangka ternyata Kakek Grim baik.”
“Bagaimana kakinya nak ?” Tanya Kakek Grim kepada Robbert.
“Sudah lebih baik kek.” Kata Robbert, “Terimakasih ya kek.” Kata Robbert lagi.
“Iya sama-sama. Tetapi lain kali kalau mau buah apel jangan mencuri seperti tadi. Masuk saja dulu ke rumah Kakek, nanti pasti kakek petikkan.” Kata Kakek Grim.
“Iya Rob. Jangan kayak tadi.” Kata John menimpali.
“Iya deh. Aku janji.” Kata Robbert menahan malu.

Oleh : Anisca Primadwiyani

Curhatan Di MP

Yak, sekarang giliran membaca curhatan anis dari kelompok TRI FIV3R *yeeeeee*
Awal mula mau masuk MP sih gara-gara kakak bilang kalo di MP itu ekstra yang bisa keluar keluar sama ada fotografinya. Sempet juga di bilang sama kakak kalo MP itu sibuk, tiap minggu selalu bikin kording tapi perkelompok. Sedikit tenang waktu dikasi tau kalo buatnya perkelompok. Awalnya sih gatau kalo ada seleksinya, dag dig dug seerrrr begitu dikasitau pas mau seleksi. Udah pesimis aja tuh waktu itu pasti gabakalan bisa masuk MP. Pas pengumuman ternyata namaku ada disanaaaa *salto sambil kayang*
Pas awal-awal masuk ekstra ada rasa males gitu soalnya (jujur) ada banyak panmos yang (maaf) mukanya agak sedikit nakutin ._. Trus juga sempet males ekstra gitu, waktu itu juga kan belum akrab sama temen-temen satu ekstra. Setelah hampir setahun ini ekstra ternyata yah ga nakutin kayak waktu awal-awal masuk ekstra. Kakak pengurusnya juga bener-bener berasa kayak kakak sendiri yang bisa diajak bercanda, curhat, pokoknya semuanya deh. Yang paling malesin di ekstra MP cuma satu aja sih sebenernya ._. Yak buat KORDING. Mama selalu ngomel-ngomel kalo udah berurusan sama yang satu ini, jujur mama sempet nyuruh keluar dari MP gara-gara terus terusan buat kording yang mama anggep itu ngeganggu waktu aku buat belajar. Mama selalu protes gini "Ngapain sih kording terbit harus tiap minggu. Sebulan sekali aja kenapa sih. Udah terbit tiap minggu, satu minggunya ada dua kording juga. Siapa sih emangnya yang mau baca." Protes mama yang ini bener-bener JLEB banget. Mama sebenernya suka aku ikut ekstra MP tapi yang mama gasuka cuma satu, kegiatan MP yang lebih sibuk daripada kegiatan sekolah. Yaaahh....cuma itu yang sekarang bisa aku sampein. Tapi tetep kok, MP itu keluarga di sekolah yang aku sayang *bighug*

Cerpen : Temanmu Temanku

Teriak Diana masuk dalam kelas dan menghampiri bangku yang diduuki teman sebangkunya Asti..

    “Hey ti, tau ga? Tadi aku dapet berita katanya temanku smpku mau liburan ke Amerika..”

Ucap Diana terlihat sangat senang , dan badanya tidak ikit diam…

Asti rupanya terlihat bingung, ia mengeritkan dahinya dan bertanya pada Diana.

    “Lalu kenapa kamu yang senang na ? aneh dehhh ?” ungkap Asti sebari mengambil buku     dalam tasnya.

    “Hemmmmm……hehehe ”

Diana hanya bergumam sebari dia duduk di tempt duduknya biasa dan terlihat tersenyum senyum ga jelas..

    “Idihhh kamu ga jelas dehh..di Tanya kok malah cengar cengir ga jelas gitu ..!?”

Diana menghadapkan badanya pada asti, Diana mencolek tangan Asti pertanda agar asti pun ikut menghadap ke arahnya.

Astipun menghadap. Dan Diana menjawab pertanyaan Asti tadi
    “Iya aku ikut senaglah soalnya…emmmmm” ucap Diana belum selesai..

    “Soalnya kenapa ?????”

    “Iya soalnya aku juga di ajak ma temanku bwat liburan ke Ameika juga .” jelasnya, dina     tersenyum senang pada Asti yang terkejut..
“wahhh masa sin a ?” Tanya Asti tidak percaya !

“ihhh iya tau, BENERAN !!” jawab Diana meyakinkan Asti.

    “hemmm enak kamu “ ungkap Asti sebari mengarahkan badanya lagi kedepan dan     membuka buku yang ia keluarkan tadi dari dalam tas.
“ihhh Asti aku pengen kamu ikut…” rengek Diana.

“emang di bolehin?” Tanya Asti
“Mungkin aja…!???” ujar Diana.

“hemmm ga munkinlah…jiahhh” celoteh Asti.

Bel sekolahpun berbunyi menandakan palajaran kelas pertama akan segera di mulai. Dating seorang wanita setengah bay memasuki kelas, dia adalah Ibu Dewi, guru IPA. Palajaranpun berjalan dengan lancar, jam demi jam di lalui dan tentunya dengan pergantian pelajaran tiap jam sampai tiba waktunya jam pulang.

Diana sampai dirumahnya, lansung saja dia pergi ke kamarnya, ia membuka pintu kamarnya dan ia langsing menyimpan tas sekolahnya di atas kasur ia pun membaringakan badanya dengan keadaan sepatu masih terpakai.

Diana mengambil ponsel yang ada di dalam saku seragam SMAnya. Ia mencari kontak yang bernama Feby pada kontak ponselnya dan akhirnya ketemu. Diana lansung saja menelpon Feby dan bercakap cakap dengan Feby di telpon.

Pagi ini Diana sengaja dating lebih awal dari Asti, mungkin akan memberitahukan seseuatu atau mengkin karna Diana memang igin berangakat pagi hari ini.

Asti tiba, ia lansung saja menghampir tempat duduknya dan terrlihat disana sudah ada Diana, iapun lansung saja melontarkan senyumanya pada Diana.

    “hey tumben kamu dating pagi ?) Tanya Asti pada Diana sambil tersenyum dan     menyimpan tasnya di kursinya dan ia pun terduduk.

    “hehe iya aku lafi rajin” jawab Diana “eh aku ingin menyampaikan berita bahagia     untukmu “ lanjutnya.
“Apa?”Tanya Asti singkat

“kamu di bolehkan ikut liburan, kmarin aku minta ijin kepada temanku”

    “BENERAN na? ihhhhh senenggggggg” ujar Asti terlihat sangat senang.

“iya bener ti, aku juga seneng banget bias liburan ke luar negeri sama sahabatku J”

Seminggu kemudian liburan pun tiba, Diana dan Asti sudah menanti di bandara. Mereka menunggu Feby beserta kakaknya yang tainggal di Amerika dan pulang dulu hanya untuk menjemput adiknya Feby ke Indonesia dan mambawanya ke Amerika.

Dari gerbang terlihat kedatangan Feby dan kakaknya, sama seperti Diana dan Asti, mereka membaea koper berisi pembekalan beserta baju baju ganti.

Dari kejauhan Feby sudah melambaikan tanganya, aku pun membalasnya.

Feby menhampiri mereka “heyy kalian sudah lama menunggu ?? J” Tanya Feby pada Diana dan Asti.

    “ga kok feb J” jawab Diana.

“hey ti katanya ga kan ikut ?” Tanya Feby pada Asti.
Diana telihat bingung .”loh jadi kalian udaha pada kenal ?”

    “haha iya na, kamu ga tau ya? Padahal kita sering membicarakan kamu saat di sekolah”     ucap feby .

Diana menatap Asty kebingungan. Dan Asty hanya bias nyengir pada Diana.

“hehe kita kan temen SD na” kata Asty pada Diana.

    “ihhhh kamu ga ngomong ya?” ujar Diana kesel..
    “heheheh kamu ga nanya sihhh J”

“hahahah yasudah yang penting kalian udah tau semuanya kan ?” ucap feby menertawakan tingkah mereka. “dan yang penting na kamu bias liburan sama sahabat sahabat mu yang cantik ini,,,hahah” lanjutnya.

Diana hanya tertawa geli dan dia terlihat seperti masih bingung.

    “ayo cepet tuh pesawatnya dah mau berangkat “ ajak kakak Feby pada mereka bertiga.
    “AYYYOOO..” jawab mereka serentak..kakak Feby naya tersenyum melihat tingakah     mereka J. Mereka bertiga berjalan bersama sebari menarik kopernya menuju pasawat dan     kakaknya Feby jalan di depan mereka.
                                                                                                                                     Oleh : Bagus Pramundana

Puisi : Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
                                                             Oleh : Bagus Pramundana

Puisi : Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
Oleh : Bagus Pramundana

Cerpen : Sesuatu Yang Keras Namun Bukan Berlian, Lembut Namun Bukan Kapas, Dan Sangat Berharga Namun Bukan Mutiara

Seorang yang renta dan tidak asing bagiku, sering berkunjung ke tempatku sekedar berbincang-bincang, dan bersih-bersih, aku teringat pada masa saat aku dan dia masih bisa bercanda tawa bersama-sama.
“Aldi.., aldi…, aldi…,” terdengar seseorang memanggilku di luar sana, dan ketika ku membuka jendela, hal yang sudah biasa namun selalu ku tunggu-tunggu datang juga, yap.. berangkat ke sekolah bersama teman baik seperjuanganku, “bayu ada PR hari ini”  basa basi yang sering ku lontarkan setiap pagi dengannya, dan seperti biasa juga ia menjawab “enggak lah, emang kapan guru ada sms ngasik PR ke kita?” bayu adalah nama teman karibku yang sangat dekat, hampir setiap hari aku selalu menghabiskan waktuku bersama teman baikku, dengan jalan-jalan keluar rumah bersama, membuat tugas bersama dan belajar kelompok, di sekolah aku benar-benar beruntung, karena setiap kenaikan kelas, kelasku selalu sama dengannya, sehingga semua orang di sekolah menganggap kami bagaikan surat dan perangko selalu nempel. Namun suatu hari pertemanan kami terputus, karena kesalah pahaman, ketika itu ica datang menghampiriku dengan air mata yang mengalir tanpa henti dari wajahnya, ica adalah wanita yang menjadi tambatan hati bayu. Ketika ia duduk di dekatku dan meminta untuk menyandarkan diriya di pundakku ia pun bercerita tentang keluh kesahnya terhadap bayu belakangan ini, “aldi kamu tau gak bayu kenapa? Belakangan ini ia selalu tidak menganggap ku ada, walaupun saat kami makan malam berdua” aku berusaha menenangkannya dengan     jawaban yang di selingi dengan candaan khasku “mungkin di pikirannya masih banyak beban, sehingga kamu yea.. di kacangin kayak kacang kulit” ketika aku telah menenangkan hatinya, bayu melihat kami berdua dan mengangggap kami bermesraan, dengan pandangan amarah yang tinggi ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kelas, pada saat itu sontak aku sebagai sahabat baiknya dan ica sebagai kekasihnya berlari menuju bayu yang telah terbakar api cemburu, aku dan ica mencoba menjelaskannya dan seperti yang terduga ia berlalu begitu saja, menjauhi dan memusuhiku, aku pun mencoba untuk berbaikan dengannya dengan menjelaskan bahwa “ica bukan bermaksud selingkuh denganku di belakangmu, melainkan ia hanya mencurahkan segala penat hatinya denganmu kepadaku,” walaupun telah ku jelaskan beberapa kali, namun ia tetap memusuhiku dan menjauhiku, setelah beberapa lama ia menjauhiku, tiba dimana saat hari ulang tahunku dengannya, karena kebetulan, kami lahir di hari yang sama dengan jam yang berbeda. Di sana telah ku persiapkan ucapan maaf ku sebesar-besarnya kepada bayu, namun ia menjawab dengan penuh amarah yang telah di pendamnya sejak lama di depanku, “aldi… kamu adalah teman yang telah menusukku dari belakang, merebut harapanku, kamu adalah sahabat yang bermain di belakangku, bermuka tebal…“ tanpa menunggu perkataan kasarnya lagi aku berusaha merangkul dan memeluknya, namun ia mendorongku dengan wajah yang kesal dan berlalu begitu saja, ketika itu pun rasa nyeri yang tak tertahankan pada jantungku mulai bergejolak, aku pun terjatuh begitu saja, melihat robohnya diriku bayu yang semulanya ingin berlari kearah parkiran untuk pulang berubah pikiran dan menghampiriku, menggendongku kearah rumah sakit yang memang tidak jauh dari tempat perayaan ulang tahun itu, ketika aku dan bayu tiba dirumah sakit, perawat di rumah sakit itu mengantikan tugas sahabatku bayu, membawaku ke dokter dan menganalisis keadaanku, sedangkan bayu bersama keluargaku yang telah di hubungi oleh ica menunggu di ruang tunggu, setelah lama mereka menunggu, dokter tiba menghampiri mereka dengan raut wajah yang tidak menyenangkan, disana dokter tersebut berkata yang sangat tidak diinginkan oleh semua orang terdekatku, “ibu dan bapak, orang tua dari aldi ya?” begitu sapa pertama dokter yang mendiagnosaku, dan berlanjut pada inti dari perbincangan itu “bapak ibu aldi, dan adik yang membawa aldi ke sini, dengan berat hati saya harus mengatakan ini, bahwa dari ciri-ciri yang di derita oleh aldi, kami menyimpulkan bahwa aldi terkena serangan jantung yang sangat akut, nyawanya tidak akan tertolong hingga dua hari ke depan, sehingga salah satunya harapan bahwa ada pendonor jantung yang sesuai dengan aldi, namun hal ini jangan sampai terdengar oleh aldi, karena itu sangat membahayakan nyawanya sendiri”, pada saat itu semua yang berada di ruang tunggu itu memeriksakan jantungnya, apakah cocok dengan aldi, namun hasilnya nihil, semua dari jantung mereka, tidak ada yang cocok dengan aldi, karena ukuran jantung aldi memang tidak biasa dan bisa di bilang langka. Orang tua aldi pun pasrah dan mengikhlaskan aldi, namun teman aldi termasuk bayu pantang menyerah, mereka berusaha menghibur aldi, sampai di terakhir kalinya bayu mengajak aku keluar mencari udara segar, aku tidak mengetahui bahwa saat itulah hari terakhirku jalan besama dengan bayu, ketika bayu menceritakan semuanya kepadaku, tentang penyakitku, dan segala hal yang terjadi saat aku pingsan, aku merasa tidak begitu kaget, karena kami berjanji tidak ada yang di tutup tutupi, meski itu membahayakan nyawa diantara kami berdua. Saat aku mengetahui penyakitku yang tak tertolong lagi, aku mengucapkan permohonan maaf ku yang terakhir kali dan kata terakhir   dengan linangan air mata yang mengalir begitu saja ”bayu, maafin aku sama ica ya, kita bukan bermaksud bermesraan di belakangmu, itu hanya kesalah pahaman saja, dan aku Cuma mau ngasik tau kamu sesuatu, kamu harus selalu ingat ini, jika memiliki seorang yang berarti seperti aku yaitu, sesuatu yang keras namun bukan berlian, lembut namun bukan kapas, dan sangat berharga namun bukan mutiara” bayu pun heran tak mengerti mendengar kata-kataku yang baru saja terlontar, ia pun membalas perkataanku, “sesuatu yang keras namun bukan berlian, lembut namun bukan kapas, dan sangat berharga namun bukan mutiara? Apa itu?” dengan nafasku yang terakhir aku menjawab dengan terpatah-patah, “SAHABAT kawan, sahabat  adalah teman yang tidak akan pernah bisa tergantikan selamanya, jadi jangan sampai kau retakan persahabatan itu” ketika itu pun aku telah menghembuskan nafas terakhirku dan terjatuh di bawah pangkuan bayu, dengan air mata yang berlinang di wajah bayu dan menetes ke wajah ku, bayu menyadari segala kesalahan dan ke egoisannya dulu terhadap aldi, saat upacara pemakamanku, selain orang tuaku, bayu adalah orang yang paling terpukul dan merasa bersalah kepada ku. Semenjak  itu pun, setiap pulang sekolah, ia terus mengunjungi kuburanku, sekedar berbincang, membersihkan kuburanku, dan menaburkan bunga hingga hari tua menjemputnya.  

Oleh : Bagus Pramundana

Cerpen : Ciara

Matahari tak kenal lelah menyinari kita. Dihari yang cerah itu, seorang gadis belia berambut ikal sebahu sedang bermain-main bersama teman-temannya. Wajah mungil berkulit bersihnya bermandikan peluh. Mata coklat dan bibir kecilnya tidak henti-hentinya tertawa. Bel sekolah memutus waktu bermain mereka. Meski harus kembali berkutat dengan buku pelajaran, gadis itu kembali menuju kelas sambil bercanda dengan temannya. Ciara sukses mengikuti pelajaran hingga bel sekolah berbunyi. Menandakan waktu kembali kerumah sudah tiba. Sebelum pulang, Ciara dan teman-temannya menyempatkan diri berbelanja ke kantin untuk membeli es teh manis yang segar. Cuaca yang panas telah menghabiskan cairan didalam tubuh mereka. “Ciara, kok sepatu kamu itu-itu saja sih? Kamu gak punya sepatu lain ya?” Tanya Angel, teman Ciara dengan nada mengejek. “he-eh, dari awal sekolah selalu pake yang sama mulu deh! Gak punya uang ya?” seorang teman Angel menimpali. Ciara terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu. Namun ia pandai menutupi perasaannya, “hahahaha iya nih, ibuku belum membelikan yang baru” jawabnya sambul meringis. Viona dan Mella, sahabat dekat Ciara, langsung mengamit lengan Ciara. Membawanya pulang menjauhi Angel dan Fika yang tersenyum sangat angkuh. Selama perjalanan pulang, tidak ada satupun yang berbicara.  Kebetulan rumah mereka terletak di perumahan yang sama hanya terpisah beberapa rumah saja. Perumahan pun letaknya tidak jauh dari sekolah. Cukup berjalan selama 10 menit saja.  “Seharusnya kamu lawan mereka barusan, Ciara” Mella membuka suaranya. Ciara tidak berbicara apa-apa. Ia hanya menunduk melihat rok biru seragamnya. Ia tidak tau apa yang mesti ia katakan. Toh juga  Angel dan Fika  benar. Ia tidak punya uang untuk membeli sepatu baru. Semenjak ayahnya meninggal setahun yang lalu, keluarga Ciara harus hidup serba pas-pasan. Ia tidak miskin, hanya saja semua serba seadanya. “hei  Ciara, jangan pernah minder ya. Kamu cantik, juara kelas pula. Tidak usah dipikirin. Kita tetep temen kamu kok” kali ini Viona berkata sambil tersenyum lebar. Menampilkan gigi berkawatnya. Mella dan Viona sama-sama gadis yang berasal dari keluarga yang berada. Namun mereka dibesarkan dengan sederhana oleh keluaga mereka. Ciara menatap kedua sahabatnya. Ia merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Namun tak bs dipungkiri ia memang sangat iri terhadap teman-temannya yang berasal dari keluarga berada. Selama ini ia memang tidak pernah meminta kepada ibunya. Mungkin kali ini ia akan mencobanya.
Sesampai dirumah, Ciara disambut oleh bau masakan yang sedap pertanda Ibunya pulang lebih cepat. Ia memperhatikan wanita yang sangat ia sayangi sedang memotong tempe dan tahu. "Oh, hai Ciara! Bikin kaget aja. Tunggu sebentar ya sebentar lagi Mama selesai memasak" sambut Ibunya setelah menyadari kehadiran Ciara. "Iya Ma, santai aja" Ciara mengambil tempat duduk dan tidak berkata apa-apa.
"Kamu kenapa? Kok tumben diam saja?" Tanya Ibunya - Maria,
"Gak kenapa kok Ma" Ciara membalas pertanyaan Maria sambil memainkan jarinya.
"Ada yang ingin disampaikan?" Pancing Maria
"Eeng, mama tau Angel?" Ciara bertanya dengan ragu-ragu
"Tentu saja tau. Dia yang pernah kamu ceritakan itu ya? Yang agak sombong" kenang Maria. Ciara memang selalu bercerita apapun kepada Ibunya. Maklum, Ciara adalah anak semata wayang.
"Dia ngatain aku miskin. Cuma gara-gara aku pake sepatu yang itu-itu aja. Aku maluu Ma" ungkap Ciara seakan tak terbendung
Melihat anaknya seperti itu, Maria menghentikan kegiatannya kemudian duduk disebelah Ciara. "Kenapa tiba-tiba? Bukannya sepatu kamu masih baik-baik saja?" Suara Maria mengalun dengan lembut
"Aku malu Ma. Mereka selalu ngatain aku. Aku gak punya apa-apa" putus Ciara dengan kepala tertunduk.
Tangan lentik Maria mengelus kepala Ciara dengan sayang "mama minta maaf, sekarang Mama belum bisa membelikan kamu sepatu baru, Sayang. Kan mama baru saja membayar uang sekolah dan seragam barumu". Ciara putus asa, ia sudah tau ia akan mendapat jawaban seperti itu. Yah, setidaknya ia sudah mencoba bertanya. "Tapi Ciara, jangan pernah bilang bahwa kamu tidak punya apa-apa." Ciara mengangkat wajahnya. Matanya beradu dengan mata hijau yang sangat jernih. "Kamu memiliki cinta Mama. Kamu yang memiliki sepenuhnya yang orang lain miliki. Ingat itu, Sayang. Kamu bersabar ya? Mama janji akan mencari uang tambahan." Ucap Maria dengan suara selembut beledu yang telah sukses membuat mata Ciara berair. Serta merta Ia memeluk Ibunya dengan erat. Ibunyalah kekayaannya, segalanya. Bukan masalah bila tidak mempunyai sepatu bagus seperti Angel dkk, setidaknya Ia memiliki Ibu yang tidak dimiliki orang lain.

The End

Oleh : Tara Raviyoga

Puisi : Jeritan Hati Seorang Anak

Apakah kau mendengar, wahai kawan?
Ibu kita sedang merintih
Buka hatimu kawan!
Ibu pertiwi sedang menangis

wahai kawan,
Ibu kita telah memberikan segalanya
Tanah yang kau pijak
Air yang kau sesap
Segala kekayaan alam kau sia-siakan

Tidakkah kau melihat, Wahai kawan?
Ibu berusaha memberi peringatan
Ia berusaha menyembunyikan pendiritaan dibalik hutan beton
Bagaimana kau tega membiarkan baja-baja itu menyerap minyak dgn membabi buta
Bagaimana kau tega membiarkan membebani bumi dgn beton,
Menjual tanah rengkuhannya,
Membabat tirai penyejuk,
Bagaimana kau tega membiarkan ibumu diperkosa!

Sadarlah wahai kawan,
Sadarlah!

Oleh: Tara Raviyoga

Puisi : Bertahan

Patah sayap tak bergerak
Perih manis beradu satu
Aku lumpuh tanpa cintamu
Aku tak yakin lagi utk bertahan

Aku lelah dengan segala harapan tiada pasti
Rentetan kenangan-kenangan manis
Seakan menyokongku bertahan
Sekaligus menyiratkan betapa lemahnya aku tuk bertahan

Kaulah pemenangnya, dan selalu menang
Bak raja dengan segala otoritasnya
Merayuku dengan jeratan manismu
Memaksaku merubuhkan dinding keraguan yang ku bangun

Gengaman tanganmu membuatku
Kembali bertekad
Menegakkan punggung utk bertahan
Tak perduli apapun yang terjadi

oleh: Tara Raviyoga

Curhatan Di MP

Sudah hampir setahun saya telah bernaung dibawah payung ekstra jurnalistik.  Sudah setahun pula kita memanggul lambang kebanggaan saya dan teman-teman. Tentu saja tak lain lambang itu adalah lambang Madyapadma Jounalistic Park. Bergabung kedalam keluarga Madyapadma memberikan banyak hal yang mungkin tidak akan saya dapatkan ditempat lain. Teringat ketika saya mengikuti seleksti anggota Madyapadma beberapa bulan yang lalu. Lebih dari 50 orang mengikuti seleksi tersebut dan hanya 28 orang yang akan lolos. Saya pesimis total. Saya pingin pulang saat itu juga. Tapi berkat seorang sahabat saya, saya berhasil bertahan disekolah dan mengikuti seleksi dengan jantung yang terus berdebar-debar (mungkin saya bisa jantungan dini :p ). Seleksi berlalu, pengumuman pun tiba. Saya sengaja tidak membuka madyapadma-online.com karena saat itu saya berpikir: “serius deh gak bakal lolos. Aku sama sekali gak pernah ikut jurnalistik jadi gak mungkin lolos. Ahahaha.” Kurang lebih begitulah isi pikiran saya saat itu. Ketika saya sedang meratapi nasib dan memikirkan bakal-ikut-ekstra apa-sekarang-nih, teman saya menelpon dan mengatakan bahwa saya lulus seleksi. Kontan saya berteriak kegirangan. Yah, saat itulah yang paling saya ingat hingga sekarang. It is one of my unforgettable moments. *seeerrrr*
Beberapa bulan setelah bergabung dalam Madyapadma, saya akui saya sangat jenuh dengan tugas-tugasnya terutama kording. Membuat kording ditengah-tengah kesibukan kan tugas-tugas sekolah sangat memberikan tekanan yang sangat besar. Tidak heran juga saya dengan anggota kelompok saya sering bentrok dengan anggota kording saya namun berkat kekuatan cinta kita bisa mengatasi kebentrokan kita! Huahaahahahaha, ups. Belum lagi set yang diberikan ketika kita mengulangi kesalahan yang sama, selalu bertepatan dengan saat dimana tugas dan ulangan sedang krodit-kroditnya. Kalau sudah begitu, saya suka berkata “Apa dosaaaakuuuuuuuuuuuu Tuhaaaaann??????” lebay memang, tapi begitulah kenyataannya. Jujur, saya juga sempat merasa tidak nyaman berada di Madyapadma. Mungkin karena tugas, tidak akrab dengan anggota lain, dan ketakutan kepada dengan kakak pengurus. Selalu takut salah. Namun ketakutan dan ketidaknyamanan itu kini telah sirna semenjak saya dan teman-teman mulai saling berangkulan dan berani menghadapi ketakutan kamu itu. Kami telah memberanikan diri untuk mengungkapkan uneg-uneg yang selama ini kami simpan. terjadilah komunikasi yang baik antara kami dan kakak pengurus. Inilah rumah kami, keluarga kami.