Madyapadma35

XXXV Family

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording P3RIODISTA

Proses pembuatan kording oleh kelompok P3RIODISTA .

Behind The Scene Kording 3LANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording SEARCH3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording TRI FIV3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording CR35TAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Cr35tal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cr35tal. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Curhatan Di MP

Sebelumnya saya menilai MP sebagai ekstra kulikuler yang banyak memiliki bidang diantara nya redaksi,foto,film dan radio. Selama di MP saya merasa banyak pengalaman yang saya dapatkan disegala bidang yang ada di MP. Yang dulunya saya buta akan dunia jurnalistik setelah mengikuti ekstra jurnalistik, sama sedikit-demi sedikit mengetahui tentang dunia jurnalistik. Aku sangat senang bisa masuk ke Mp karena Mp tuh xtra yang besar di TRISMA. Tidak sembarang orang bisa menjadi keluarga besar MP. Saya selama ini saya merasakan kekeluargaan diantara kakak MP dan anggota MP. Tapi saya juga merasakan ketidakmengenakan selama di MP. Memang karena kita melakukan kesalahan yang besar. Saya ingin kakak kelas memberitahu kita apa kesalahan yang kita perbuat. Agar kita tidak merasa terlalu merasa bersalah sehingga kami merasa tidak enak berada di ekstra MP.

Yana

Curhatan Di MP

Bagi saya, MP sudah merupakan bagian dari keluarga. Kadang ada saat kita diberi kewajiban, kadang juga diberi petuah-petuah bagaimana cara menjalani hidup. MP memberi banyak pelajaran dan pengalaman bagi saya, pengalaman dalam bertanggung jawab dan kerjasama antara sesama anggota MP. Tapi terkadang tugas-tugas MP yang menuntut deadline membuat saya harus mengorbankan banyak waktu belajar saya karena tugas tersebut. Waktu yang terbatas memang menuntut saya untuk belajar disiplin membagi waktu. Tapi pemberian tugas mendadak itu membuat saya berpikir tugas ini merupakan suatu beban yang menambah beban yang memang sudah diberikan oleh guru.

Chandrika

Minggu, 08 April 2012

Cerpen : Satya Alfandi

Cowok hitam manis itu juga kelas X, sama seperti Sinta. Namun sayang, mereka berbeda kelas. Sinta kelas X1 dan cowok itu kelas X6. Melihat penampilannya, Sinta tau cowok itu berbeda darinya dan teman-temannya. Tapi entah mengapa, Sinta diam-diam suka memandanginya dan menjadi pengagum dalam diam. Satya Alfandi, nama cowok itu. Itupun diketahui sinta setelah berkali-kali ia curi-curi pandang dari badge yang menempel pada seragamnya.
Saat itu Sinta sedang menunggu kakak laki-lakinya yang telat menjemputnya. Sayangnya hp yang sedang digenggamnya mati. Gerimis mulai turun. Namun, dia tidak sendiri disana. Ada cowok itu, sedang diam menatap hujan. Sinta menarik kesimpulan sendiri bahwa cowok itu ada disana untuk menjaganya.
Klakson mobil membuyarkan lamunan Sinta tentang cowok tadi. Itu kakaknya. Yah, itu berarti dia harus pulang. Sinta memang bukan siswi biasa, ia merupakan anak pengusaha terkenal yang bergelimangan harta tapi terikat berbagai aturan.
“Kamu jemput lama banget, besok aku mau minta supir pribadi aja sama papa.” Ucap Sinta kesal.
“Biar lepas dari pengawasan? Coba aja minta sama papa. Tapi aku yakin itu sia-sia.” Bram tersenyum mengejek.
***
“Sintaaa.” Ucap Sheila sahabat Sinta dengan suaranya yang memecah keheningan pagi itu.
“Apaan?” Sinta menanggapi dengan malas
“Radith titip salam.” Kata Sheila sedikit memekik.
“Radith yang mana sih?”
“Ya ampuuun, anak X6. Jangan pura-pura gak kenal deh”
“Emang gak kenal kok, Satya Alfandi baru kenal.” Sahut Sinta cepat.

Bel berbunyi nyaring tanda sudah waktunya murid-murid untuk pulang.
“Cepetan Sin, kayaknya mau hujan nih.” Sheila mengingatkan.
“Ngapain cepet-cepet? Jemputanku juga belum dateng.”
“Aku duluan yaa.” Pamit Sheila pada Sinta.
Seperti biasa, Sinta duduk di bangku beton di depan kelasnya, karena itu posisi paling dekat dengan pintu pagar. Namun, seketika Sinta senang, dilihatnya cowok pujaannya sedang duduk memandang hujan. Sinta berkhayal, andai saja cowok itu tidak duduk disana tapi menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Sinta sangat terkejut saat dilihatnya cowok itu berjalan menuju ke arahnya.
“Hai.” Sapa cowok itu ramah. Dengan gugup dibalasnya sapaan cowok itu.
“Jemputanmu belum dateng?” cowok itu duduk di bangku beton di sisi paling ujung.
“Iya. Kamu nunggu jemputan juga?”
Cowok itu tertawa kecil.
“Tidak.”
“Terus?”
“Menunggumu. Menunggu jemputanmu dateng, baru aku pulang” Cowok itu menatap wajah Sinta.
Sinta sangat terkejut, ternyata cowok ini benar-benar menjaganya.
“Gak boleh ya?”
“Nggak juga.” Sahut Sinta pelan.
“Namaku Alfandi, panggil saja Alfa. Kamu Sinta kan?”
Sinta mengangguk. Berarti aku bisa memanggilnya Alfa saja, Sinta berbisik dalam hati.

Hari ini Alfa tidak ada di sekolah. Tumben dia nggak ada, pikir Sinta dalam hati. Lengkap sudah kekecewaan Sinta saat dilihatnya mobil kakaknya sudah menunggu di depan sekolahnya. Besoknya, Sinta tidak melihat Alfa lagi. Besoknya dan besoknya lagi juga begitu hingga empat hari berturut-turut. Sayangnya, Sinta tidak memiliki kenalan di kelas Alfa, mustahil jika Sinta harus bertanya pada Radith.

Perpustakaan sepi. Sinta dan Alfa duduk berhadapan di meja paling ujung.
“Kemarin aku udah dapet honor, kamu harus mau aku traktir.” Ucap Alfa pada Sinta. Kemarin Alfa cerita, cerpennya dimuat di sebuah Koran. Sinta percaya Alfa banyak talenta, Alfa bukanlah pengamen biasa yang sering diceritakannya pada Sinta.
“Gak usah. Simpen aja uangmu untuk kepentingan lain.” Ucap Sinta pelan.
Uang itu pasti sangat berarti untuk Alfa. Berapa sih uang saku seorang anak sulung dari seorang janda dengan pekerjaan tidak tetap?
“Pokoknya kamu harus mau.”
Sinta tersenyum dan mengangguk.

“Kok kayaknya cowok itu selalu ada di deketmu tiap pulang sekolah ya?” Kata Bram. Tangannya menunjuk pada Alfa.
“Mana aku tau.”
“Temen sekelasku juga punya adik kelas 1. Dan katanya kamu akrab dengan seorang cowok miskin. Sayang, dia gak nyebutin ciri-cirinya. Tapi perasaanku yakin pasti cowok itu.” Ucap Bram dingin.
“Sekali lagi aku ingetin, jangan deket-deket sama cowok miskin, banyak kumannya. Mending sama adik temenku aja namanya Radith.” Lanjutnya.
***
Hari ini wajah Alfa lebam-lebam.
“Ini hadiah dari kakakmu.” Kata Alfa kalem.
“Dia berpikir dengan mengancamku kayak gini aku bakal mundur? Selama kamu mau, aku tetep pertahanin hubungan kita. Walaupun dia ngancem bakal bunuh aku kalo kita masih tetep pacaran.” Lanjut Alfa.
“Kita harus lebih hati-hati. Mungkin lebih baik kita ketemu di luar sekolah. Kita bisa bolos beberapa jam pelajaran dari sekolah.”
Alfa mengangguk. Semua berjalan lancer sampai mereka menginjak kelas XII.

“Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan.” Alfa menuturkan niatnya.
“Berdua aja?” Sinta memastikan.
“Iya, untuk ngerayain kelulusan kita.”
Sinta mengangguk setuju.

Saat liburan bersama Alfa, Sinta merasa dirinya benar-benar bebas dari aturan yang selama ini mengurungnya. Tidak ada yang namanya orang tua, dan larangan-larangan mereka. Tapi Sinta tidak tau bahwa saat ini adalah saat-saat terakhirnya bersama Alfa.

Alfa menghilang. Ya, ia menghilang tanpa kabar dan tanpa memberitahu Sinta terlebih dahulu. Dihubunginya HP Alfa tapi tidak aktif. Dicobanya berkali-kali tapi tetap yang terdengar hanya mailbox. Sinta hanya bisa berharap Alfa yang disayanginya akan kembali lagi dan menjelaskan keadaan yang sudah terjadi.

Oleh : Chandrika

Senin, 02 April 2012

Puisi : Hati Yang Cenat Cenut

Engkau seperti merpati bagiku
Terbang tinggi bersamaku
Tapi kadang,
Kau hilang di telan waktu

Engkau seperti kupu-kupu muda
Awalnya engkau rapuh
Tak berdaya
Tapi, kau sebenarnya
Adalah yang paling indah

Engkau seperti  seekor lebah
Jikalau aku sedih
Kau akan menghibuarku
Tapi kadang, kau menyengat
Menyengat hati ini

Engkau seperti semut  kecil
Ragamu terlihat lemah
Namun, kaulah
sebenarnya yang paling kuat

Demi  kau ku mampu
Tuk mencintaimu
Dirimu dari situ

oleh : Gungde

Puisi : Pergilah Kau

Ku terlahir hanya untukmu
Ragaku tak sepenuhnya milikku
Kuberikan padamu, seutuhnya
Tuk mencintaimu, sepenuh hatiku

Ku terpana karenamu
Seluruh jiwaku adalah milikmu
Tak ada yang dapat menggantikan
Pesona raga dan jiwamu

Kini, kau berpaling dariku
Api kecemburuan menyulut hatiku
Terlanjur sudah
Pergi, pergilah kau dari hidupku

oleh : Gungde

Cerpen : Manusia Biasa

Matahari baru bangun ternyata sudah pagi, tampak burung-burung sedang berkicauan ria, desiran ombak pantai yang menggugah selera menyambut pagi yang cerah ini. Tapi tidak untuk Made. Made hanyalah orang biasa yang mencari kehidupan dan berada dalam kesengsaraan. Ckckckc… Sungguh malang…

“De, seng jalan-jalan de?” dia berkata
“Jalan-jalan jak nyen?” ucap Made
“Oh, iya lupa.. Sori de” dia berkata lagi

Made hanya diam berkata-kata seperti itu, tapi yang kita tau perasaannya sekarang sedang bercampur aduk. Memiliki badan besar memang wajar, berbaju keren memang sangar, tapi wajah sayangnya lengar. Mulailah ia beraksi kembali. Saat malam minggu tiba, ia memulai hidupnya yang biasa. Saatnya tiba, keluarlah ia dari sarangnya menuju tempat yang seharusnya.

Entah kenapa setiap ia bertemu, orang-orang bersinis kepadanya. Sampai-sampai dulu ia jadi bulan-bulanan masyarakat. Saat itu, ia sedang tampak di suatu komplek yang tak jauh dari rumahnya. Entah kenapa ia selalu membuat warga kesal. Padahal ia sebenarnya tak bermaksud berbuat begitu. Sampai ia pernah dikejar satu kampung karena mengobrol dengan anjing tetangga sampai membuat warga bangun. Warga pun kesal dan langsung menodongkan batu kepadanya. Ckckckc… Untunglah, ia memiliki satu teman walaupun temannya itu tidak menganggap ia sebagai teman.

“Yan, aku lagi bingung ni…” sapa Made   
“Bingung kenapa?” tanya dengan heran si Wayan
“Gak jadi dah…” jawab si Made dengan lesu
“I, kenapa kamu ni…” balas balik Wayan dengan malas

Tiba-tiba, datang cewek yang datang dari kejauhan, bertubuh, dan tak bertuan menanyakan alamat.

“Mas, permisi mau nanya alamat ini tau gak ya?” tanya si Cewek itu
“Akh.. Ukhh.. Akh…” jawab Made dengan gugup
“Mas, kenapa mas? Tau alamatnya?” jawab Cewek itu dengan heran
“Hah? Owh, ehm, kesini, kesini, kesini…” Made menjawab lagi
“Owh, makasih ya mas” jawab si Cewe sambil tersenyum
“E.. Eh.. iyaiya” balas Made


Made kelihatannya sangat gugup dengan si cewek itu. Ia juga sangat senang karena dalam hidupnya hanya ada satu cewek yang mendekatinya. Esok hari, ia memberanikan diri tuk pergi ke alamat yang ditodongkan oleh cewek tersebut.

“Permisi, halo-halo” sahut Made
“Iya, lho kamu kan?” tanya Putu dengan kaget
“Iya, lupa kenalin, saya Made” jawab Made
“Owh, iya saya Putu” sahut si Putu

Setelah lama berbincang, walaupun keduanya tak tau maksud dari perbincangan tersebut, akhirnya Made berani tuk mengajak si Putu tuk berjalan-jalan.

“Eh, daripada ngobrol kita jalan-jalan yuk?”ajak Made
“Jalan-jalan kemana?” tanya si Putu
“Kemana je..” balas Made
“Oh, iya deh”Putu berkata lagi 
       
Setelah kejadian itu, Made pun semakin berkembang dan mereka berdua pun semakin akrab.

Pada akhirnya Made pun memegang rasa kepada Putu, dan Ia pun merasakan hal yang sama ada pada dirinya. Dan di sebuah pantai, saat matahari mulai terbenam, Made mengatakan kata hatinya tersebut

“Putu..” sahut     Made
“Iya, kenapa?” tanya Putu
“Kita kan sudah cukup kenal, dan aku tu ada rasa…” Made berkata
“Rasa apa?” tanya Putu
“Rasa sama kamu…” jawab Made sambil tersipu malu
“Oh…” jawab Putu dengan singkat

Made pun tak tau harus berkata apa. Tapi ia ingat kata-kata ayahnya. Langsung tanpa berpikir ia berkata “YA atau GAK??” Putu yang kaget, tak tau harus berkata apa. Ia hanya bisa minta tolong dengan suara yang besar kepada warga setempat. Dan serentak warga di sekitar melempari Made dengan batu. Made pun mengalami luka-luka saat kejadian itu. Putu yang tadinya disukai oleh Made ternyata seorang laki-laki yang menyamar sebagai perempuan. Akhir kejadian, Made memutuskan tuk masuk penjara agar ia tak jadi bulan-bulanan masyarakat lagi.

oleh : Gungde