Madyapadma35

XXXV Family

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording P3RIODISTA

Proses pembuatan kording oleh kelompok P3RIODISTA .

Behind The Scene Kording 3LANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording SEARCH3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording TRI FIV3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording CR35TAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label P3RIODISTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label P3RIODISTA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

Cerpen : Arti Sebuah Kehidupan

Rasanya ingin aku menghilang dari tempat ini. ingin aku menutup wajahku dan berlari menjauh. namun istriku terlihat begitu santai dengan ini semua. istriku sama sekali tidak mempedulikan tatapan mata mereka semua. Walaupun mereka semua adalah sahabat SMA kami dulu, namun tatapan mereka padaku telah berubah.

Wajar saja, ini adalah reuni SMA kami setelah dua puluh tahun. Sahabatku semua sudah berubah. Aku dan istriku adalah teman satu angkatan dulu. Jadi kami berdua menghadiri reunian ini dan berharap bisa bernostalgia dengan masa-masa SMA dulu. Namun semua berbeda dari apa yang aku harapkan.

"Re, apa kabarmu?, dimana kau bekerja?" kata Ginda seraya menepuk bahuku.

"em, aku melanjutkan sawah ayahku" kataku.

"hahaha. Hebat. Kalau begitu kau harus konsultasi dengan Tomi. Dia itu sarjana pertanian." Kata ginda terlihat bersemangat menunjuk tomi.

"……." Aku diam.

"dengar-dengar dia ingin mengambil gelar doktor di jurusan itu. Yaah, mungkin tidak ingin kalah dariku. hahaha" kata ginda melanjutkan. Aku semakin membisu.

Mengapa mereka semua membicarakan hal-hal seperti ini?. Aku pikir reuni ini untuk mengenang kembali masa-masa dulu. Aku pikir reuni ini untuk melepaskan rasa rindu pada kenangan masa dulu. Mengapa mereka membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti?. Mengapa aku merasa terasing disini?.

Ruangan ini terlalu dipenuhi oleh kemewahan. Masing-masing sahabatku telah menjadi orang yang sukses. Sementara aku dan istriku hanyalah dua orang dari keluarga yang sederhana. Kami berdua menikah setelah lulus SMA dan tidak melanjutkan pendidikan seperti sahabat-sahabatku yang lain.

Aku memperhatikan wajah istriku dari kejauhan. Wajahnya ceria, sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Mengapa aku tidak bisa seperti dia?, ceria dan percaya diri menghadapi teman-temanku. Apakah karena aku memperhatikan baju istriku yang mulai terlihat kusam. Itu adalah satu-satunya baju yang bagus miliknya. Itu aku belikan dua tahun yang lalu saat lebaran tiba.

Semakin minder aku melihat teman-teman wanitanya yang kini terlihat modis dan anggun dengan perhiasan yang melingkar di jemari dan tangan mereka. Sementara istriku hanya memiliki satu cincin emas yang aku belikan saat pernikahan dua puluh tahun yang lalu. Melihatnya jilbabnya yang kusam, ingin rasanya aku menangis.

Aku berjalan mendekatinya dengan gemetar. Aku akan mengajaknya pergi dari ruangan yang membuat aku sesak ini. Aku merasa telah gagal menjadi suami yang bisa memberikan kebahagiaan padanya. Aku harus mengajaknya pergi sebelum dia menyadari, hanya kami berdua yang terlihat kumuh disini.

"April, lihatlah ini. Pacarku membelikan tas ini saat dia pulang dari Perancis. Kau tahu?. Harganya ini sama dengan seratus tas biasa disini." Kata Ellen berbicara pada istriku. "ohh, kau Rengga kan?, kau suami April kan?" tanya Ellen.

"iya" jawabku singkat. Aku kemudian menatap April dan menggangukkan kepala mengajaknya pergi. Tapi April, Istriku hanya tersenyum. Dia lalu melanjutkan perbincangannya dengan Ellen.

"iya len, tasmu bagus" kata istriku sambil tersenyum.

"Gimana, kamu ingin membeli tas yang seperti ini?" tanya Ellen menggebu.

"hehe, Nggak usah. Tasku ini sudah cukup mewah" kata istriku.

"mewah?, itukan hanya tas yang harganya biasa?" tanya Ellen meremehkan.

"mungkin tak berharga, tapi nilainya untukku sangat berarti" kata istriku.

"Nilai?" tanya Ellen bingung.

"Benar. Ini adalah hadiah pernikahan yang diberikan suamiku. Dan nilainya tidak bisa di beli oleh uang berapapun." Kata Istriku seraya memeluk lenganku. April diam seribu bahasa, lalu berlalu pergi dengan senyuman sinis.

Dadaku bergetar hebat. Aku merasakan bahagia dan haru dalam waktu yang sama. membuatku merasa lebih kuat dan lebih berani jauh dari sebelumnya. Aku merasa sangat bangga dan percaya diri kembali. Kemudian Kami mengikuti acara reunian ini sampai akhir.

***

Saat kami berpisah dengan sahabatku, aku bisa tersenyum seperti dulu. Meski mereka pulang dengan kendaraan mewah, aku tak peduli. Lalu di dalam angkot menuju pulang kerumah, aku bertanya pada istriku.

"kamu serius waktu tadi bicara pada Ellen?" tanyaku.

"tentu saja sayangku. Didunia ini ada hal yang berharga yang mampu dibeli oleh mereka yang punya uang. Namun hal-hal yang bernilai tidak semua orang mampu memilikinya." Kata dia sambil tersenyum.

Aku memegang tangannya. Dia bersandar dibahuku sambil menikmati pemandangan lewat kaca angkot yang buram. Saat ini aku benar-benar bahagia. Namun aku juga berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat istriku ini bahagia. Aku berjanji akan mengisi kehidupanya dengan hal-hal yang jauh lebih bernilai dan berharga.

Aku lama memperhatikan wajahnya yang cantik. Ku eratkan genggaman tanganku. aku meneteskan bulir air mata bahagia. Lalu aku berkata dalam hati
"ya tuhan, terimakasih kau telah mengizinkan aku menjadi pendamping wanita yang sederhana ini. Sungguh, aku benar-benar mencintai wanita ini."

oleh : Yogi

Cerpen : Rocky...Semoga Kau Tenang Disana

Saat itu aku masih menggunakan pakaian putih biru, pakaian yang mengingatkan ku akan sahabat, namun aku lebih menggangapnya sebagai saudara, saudara yang tak akan hilang dan tak akan tergantikan di hatiku namun ia telah hilang di dunia nyata. Kehilangan saudara yang selalu menjagaku dan menemaniku memang terasa menyakitkan, rasanya seperti kehilangan separuh nafas dalam hidup, yang memberikan kebahagian jika mereka ada dan terasa menyakitkan jika mereka telah tiada.
    Berawal dari menjalani kehidupan di rumah baruku yang terasa sepi tanpa kehadiran seekor binatang yang dapat menjaga rumah ini dan memberikan warna baru sejarah kehidupan di keluarga ini.

“Ayah.....!!!” teriakku sangat keras.
    “Aduh!!...ada apa, kamu ga tau kalau ayah dibelakangmu, pakai acara teriak-teriak segala” sahut ayahku berbalik meneriakiku.

Aku berfikir sejenak, mungkin ayahku sudah lupa dengan janjinya yang akan segera membelikanku seekor anjing kecil.

“Ayah sudah lupa? Waktu itu ayah sudah janji akan membelikanku seekor anjing kecil, terus mana buktinya kenapa lama sekali?” sahutku agak kesal.
“Waduh...ayah benar-benar lupa membelikanmu anjing kecil, besok ya ayah belikan” ucap ayahku sambil menggaruki kepalanya.
“Besok lupa, besoknya lagi lupa, sekalian aja lagi setahun belinya” sahutku sambil menahan amarah.

Akhirnya setelah berulang kali aku ingatkan tuk membelikan anjing kecil, sang pahlawan kecil pun datang untuk pertama kalinya kerumahku.

“Hey...anjing kecil yang lucu, apakah kamu sudah punya nama?” tanyaku sambil mengusapi kepalanya.

Pertanyaanku sepertinya agak kedengaran gila, karena aku memberi pertanyaan kepada anjing yang memang tak mengerti maksud dari perkataanku. Namun setelah aku melihat dari raut muka wajahnya, sepertinya ia belum mempunyai nama dan ingin segera diberikan nama.

“Rocky...sini...sini” ucap ayahku.

Aku pun kaget akan nama yang diberikan oleh ayahku. Mengapa bisa Rocky kenapa tidak yang lain saja?. Apa arti dari nama Rocky? Pikirku.

“Ayah, apa artinya Rocky? Rocky itu kan artinya batu, lalu apa hubungan anjing dengan batu?” tanyaku heran.
    “Nanti saja kamu pasti tau” sahut ayah sambil meninggalkanku pergi. Aku pun terheran-heran akan apa yang disembunyikan oleh ayahku.

    Tiap pagi ketika aku masih terlelap dalam tidurku, aku pun sering dikejutkan oleh kedatangan Rocky ke kamarku dan mencoba untuk membangunkan ku, bisa dikatakan Rocky ini anjing yang bandel, ia pun sering masuk ke dalam rumah padahal sudah dilarang oleh orangtuaku. Selain itu ia pun sering menggigit semua sandal yang ada di rumah, tidak itu saja, meja-meja yang berada di teras pun tak luput dari gigitannya. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh ayahku, kenapa ayahku memberinya dengan nama Rocky, sifatnya memang seperti batu, keras kepala dan susah untuk diberitau.
    Berbulan-bulan kemudian Rocky sudah mulai dewasa, dan mandiri, namun seiring kedewasaan tersebut, sifat buruknya pun tidak pernah hilang. Sampai hari yang ditunggu pun tiba, saat itu Rocky sangat bosan di rumah, dan hari itu adalah hari masuk sekolah.

    “Rocky...sini...sini...kamu pasti lapar ya? Ini ada makanan untukmu, makan yang banyak ya...” sahutku sambil menyodorkan makanan.
    “Guk...guk...guk...” sahut Rocky sambil melompat-lompat.

    Tak lama setelah itu pun aku meninggalkanya ke sekolah. Di perjalanan aku pun ingat bahwa gerbang di rumah belum ditutup. Setelah aku pulang dari sekolah, aku pun khawatir dan ingin bertemu dengan Rocky.

    “Rocky...rocky...aku datang! Loh mana rocky? Biasanya saat aku datang ia pasti menggongong dan langsung mendekatiku” , ucapku sambil mencari rocky.
    “Ayah!!...ayah!!...dimana rocky?? Dari tadi aku belum melihat wajahnya”, sahutku sambil menaruh tas.
    “Loh ayah tidak tau dimana rocky, waktu kamu berangkat ke sekolah dia sudah hilang entah kemana” sahut ayahku.
    “Aduh gawat!!!...bagaimana kalau rocky kenapa-kenapa di luar??”, jawabku panik.

    Tak lama kemudian rocky pun datang dengan badan yang lesu.

    “Rocky!!!...dari mana saja kamu?? Kenapa badanmu lesu sekali??..sini pasti kamu belum makan, ini ada makanan untukmu...”, sahutku sambil memegangi badannya.

    Namun Rocky tak mau memakannya dan malah ia pun tergeletak lesu.

    “Ayah, rocky kelihatannya lelah dan  juga ia kelihatan sakit”, ucapku.
    “Hmm...kita biarkan saja ia beristirahat dulu, semoga kamu cepat sembuh ya rocky”, ucap ayahku.
    “Rocky...maafkan aku ya, selama ini aku kurang peduli kamu, tapi aku masih sayang kok sama kamu, dengan kondisimu yang seperti ini, aku sangat menyesal dengan apa yang telah aku perbuat, semoga kamu cepat sembuh ya...”, sahutku sambil mengelus-elus kepalanya.

    Esoknya, kabar buruk pun menghampiriku, ternyata rocky telah pergi meninggalkanku dan juga keluargaku, dengan tak percaya apa yang terjadi, aku pun mencoba membangunkannya.

    “Rocky!!!...rocky!!! kenapa kau cepat sekali meninggalkanku?? Bangun rocky!!! Sahutku sambil bersedih.
    “Sudahlah, iklaskan saja kepergian rocky..., ia pasti akan selalu menyayangi kita seperti kita juga menyayanginya”, sahut ayah menepuk pundakku.

    Di tempat peristirahatan rocky, aku pun mengucapkan kata-kata terakhir untuknya.

    “Rocky...anjingku...sepertinya baru kemarin aku pertama kali bertemu denganmu, namun kau telah pergi secepat ini, rocky aku selalu menyayangimu, semoga kau tenang disana ya...”, ucapku sambil meneteskan air mata.

oleh : Yogi

Puisi : Mengejar Waktu

 Jejak langkah kaki membekas
Membakar seluruh jiwa raga
Keringat tercucur tanpa henti
Menahan apa yang terjadi

Rintangan penuh cobaan
Tiada hari tanpa perjuangan
Mengikhlaskan sesuatu yang hilang
Yang ditelan waktu dan masa
  
 oleh : Yogi

Puisi : Hamparan Bukit

Bukit bertumpuk-tumpuk

Ditumbuhi rumput yang hijau

Mentari menengok di sela-sela bukit

Memancar sinar yang cerah

Angin meniupi helaian rambut

Diiringi suara kicauan burung  

Amboi, aroma bunga-bungaan !

Terasa manisnya pemandangan pagi

oleh : Yogi