Madyapadma35

XXXV Family

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording P3RIODISTA

Proses pembuatan kording oleh kelompok P3RIODISTA .

Behind The Scene Kording 3LANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording SEARCH3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording TRI FIV3R

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Behind The Scene Kording CR35TAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 22 Mei 2012

Penantian yang tak kunjung berhenti

          Kelasku terletak di paling selatan deretan kelas x di tingkat atas.yah, kelasku adalah kelas x6, aku dan teman-teman ku sering menyebut”Asem”(anak sepuluh enam).Seperti biasa, aku berangkat sekolah pagi-pagi, yah gak pagi-pagi amat lah yah.Aku memarkir motorku diparkiran sekolah dan bergegas berjalan  keluar dari areal parkiran sekolah.Beberapa sapaan dan senyuman manis dari teman-temanku pun mulai berdatangan.Akupun menyambutnya dengan hangat dan senyuman yang bersemi.
         Sekolahku mempunyai tradisi bersembahyang dahulu kepadmasana sekolah.Hal itu dilakukan pada saat masuk kelas dan pulang sekolah.Nah,sampailah aku dikelasku.ocehan dan ledekan dari teman-temanku dikelas pun mulai berlawanan.Celotehan,canda,tawa pun mulai bertaburan dikleas kami.Tetapi hal itu belum membuat aku bahagia dan senang.Karena ada seseorang yang belum menghiasi hidupku.Dia yang selalu kunanti.
Perkenalan kami berawal sangat singkat.Saat itu aku akan bergegas menuju latihan musical di workshop sekolah.Nah,otomatis aku melewati kelasnya, yaitu kelas x2.Tepat didepan kelasnya berdirilah temannya yang sedang asik mengobrol.Didepan kelasnya itu pun aku dicegat olehnya.Diya berkata aku harus segera berhenti dan berkenalan dengan temannya itu .Awalnya aku tidak mau karena harus bergegas ke workshop.Akupun dipaksa paksa,tangan ku ditarik-tarik dan akhirnya munculah ia keluar kelas dengan gagahnya dan berkata, “ada apa ini ?”.Lalu aku yah berkenalan dengan nya.Dengan singkatnya perkenalan kami,”aku caca,” jawabku. Dan jawabnya “aku putra”.Setelah itu aku bergegas berlari kebawah dengan muka merah Karen malu.Akupun berpikir sejenak,”aduh,aku kenapa sih tadi ?”jawabku dengan agak sedikit riang.
Pada suatu hari,pada saat kakak kelas xii pemantapan , akupun dan teman-temanku yang lain menempati ruang kelas xii.Dan aku bersama teman-teman sekelasku mendapat dikelas xii ipa 6.Saat itu,pada jam istirahat kedua ,aku sedang ,menangis karena ada masalah dengan teman sekelasku agus .Dan pada saat aku menangis tersedu-sedu , nengoklah putra bersama 3 kawannya yang lain.Mereka pun bertanya,”caca  kenapa ?kok nangis? Putranya mau pinjem buku nih”.jawab salah satu temannya.Akupun berhenti menangis sejenak dan keluar kelas karena perintah  guru.Setelah guru itupun pergi, aku duduk diluar dan tak sengaja bertemu santhi ,teman baiku.Akupun mulai menangis lagi dan menceritakaknnya.Santhi pun menenangkan hatiku,dan tiba-tiba putra duduk disebelahku.Aku tak berani menoleh kearahnya dan mulai menangis lagi.Santhi berkata,”cacaaaa , berhenti nangis ,malu tuh diliatin sama putra,udah dong nangis nyaaaa.”berusaha menenangkanku.Dan akhirnya aku berhenti menagis dan pada saat itu, bel sekolah pun berdentang.Akupun berhenti menangis dan putra pun meninggalkanku .Dia mengucapkan kata “daaa” sambil melambaikan tangannya ke hadapanku.Hatikupun lega karena dia telah menghilangkan sedikit rasa sedihku.
Pada suatu malam, aku pun gelisah.Aku tak tau mengapa hatiku gelisah Akhir-akhir ini aku sering mimpi tentang putra.Ada apa sebenarnya ya ? aku terus bertanya dalam hatiku.Sesekali aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, malah semakin membuat ku penasaran terhadapnya.”Tapi,sudahlah,” kata ku dalam hati.Penantian ku terhadapnya yang tak kunjung terhenti yang menerpa ku saat ini.Dan pada saat itupun aku mempunyai inisiatif untuk bbm putra.Hal itupun sangat tak kuduga sama sekali.Akupun mengirimkan kata hay padanya.Tetapi hanya di read aja.Akupun sangat sedih.Sekali dua kali aku mencoba untuk bbm dia kembali,tetapi tetap hanya di read aja.Akupun putus asa dan berpikiran untuk meningggalkan handphone ku dikamar. Beberapa saat kemudian ,hal yang sangat aku tidak duga –duga , ternyata dia membalas bbm ku dengan berkata, “ada perlu apa ?”.Tanpa pikir panjang pun aku membalas , “gak tau dan maaf aku udh bbm km”.kataku. Aku berfikir, “aduh, apasih yang ku balas ? bodoh nya aku “.Dan putra pun menjawab “,oh iyadeh sama-sama”.Aku bertanya lagi padanya, “putra, km kenapa sih cuek banget ? udh punya pacar ya ?”, dia pun menjawab “ males pacaran ,heheheh “.Dan ternyata putra itu adalah cowok yang cinta keluarganya , dia sih bilang sama aku akhir-akhir ini sibuk karena ada acara keluarga , Jadi dia gak bisa bantu aku di acara makramat. Dengan perasaan sedikit kecewa aku berkata, “oke ,gak apa-apa dan aku salut sama kamu ,good night Putra”.jawabku dan jawabnya” iyalah gak enak sama keluarga , okehh “.
Esok paginya disekolah , aku terus memikirkannya , gak sepenuhnya sih diotakku ada dia .Dimana mana aku terus menantinya ,diparkiran sekolah, padmasana, tangga, jalan menuju kelas , tak juga ia melihatkan batang hidungnya.Pada saat aku melewati kelasnya , entah kenapa aku tak berani menoleh kearah kelas nya, padahal aku sedang mengharapkan dia menampakkan batang hidung nya didepan mataku. Tetapi tidak seperti yang aku harapkan , aku pun berjalan menuju kelasku dengan raut muka kecewa. Sesampainya dikelas, rasa kecewa ku hilang rasanya karena ada teman-teman ku yang selalu memenuhi kelas dengan lawakan-lawakan jenakanya.sesekali aku tertawa dan akhirnya tak ada beban lagi dipikiranku karenanya .Pada jam istirahat sekolah pun aku kembali menantinya , tetapi ia selalu tak ada , sampai pulang sekolah, aku berusaha untuk bergegas keluar dari kelas, ternyata dia udah pulang duluan . Rasa kecewa itu menghampriku kembali ditambah dengan kesedihan ini.
Sesampainya dirumah pun , aku mengirim pesan singkat yang hanya berisi smiley tanda senyum saja ke dia. Tetapi tetap saja , tak ada respon. Hati ku menjadi sangat sedih rasanya air mata ini ingin keluar saja.Tetapi aku menahannya dan mencoba untuk memasang muka bahagia. Ingin sekali rasanya mengobrol panjang dengannya.Tetapi bagiku , itu tak terlalu penting. Aku yang selalu sendiri mengisi hari-hariku bersama teman-temanku.Rasanya senang sekali, akan lebih senang rasanya jika putra ada disampingku.Penantianku tak akan kunjung berhenti ,tetapi aku tidak akan terlalu memikirkan hal itu.Masih banyak yang harus aku pikirkan selain penantianku ini.Sekian dan terimakasih.

Kekayaan Untuk Kami, Terimakasih Untuk Mereka

            Angin berdesir lembut dan sedikit basah. Serupa pagi-pagi sebelumnya di pengawal bulan Maret. Hujan tadi malam masih menyisakan butir-butir embun di atas rerumputan liar dan beberapa rumpun padang ilalang di belakang rumah. Pagi ini memang hujan tak turun lagi, namun mega-mega kelabu masih setia menggelayuti langit berpasang layang-layang. Aku menggeliat malas, kelopak mata yang sempat terbuka kini terpejam lagi, menyusuri ulang bunga tidur yang sempat terpenggal.  Aku enggan untuk menyambut pagi yang lembap ini. Namun, seketika Ibu masuk tanpa permisi dan dengan gerak gesit ia membuka tirai jendela berterali besi itu; menghadirkan secercah cahaya pagi tanpa matahari. Mataku dipaksa menerawang cahaya itu. Cahaya redup tanpa matahari itu, menghadirkan pemandangan halaman belakang rumah yang seminggu ini tak terawat. Dedaunan pohon trembesi ditempat itu ditiup angin lembut, menimbulkan suara yang menyeruak riak mengusik pendengaranku dan memenuhi halaman belakang rumah yang kosong. Tepat disebelahnya, berdiri tegak sekuntum bunga bakung yang masih saja sama seperti dulu. Gelagatnya pelan tanpa gairah berarti. Ya, bakung itu masih sama. Tak seperti hatiku. Semenjak kejadian itu, jangan pernah samakan diriku dengan gelagat bakung yang selalu sama. Hanya sedikit hal yang aku ketahui sebagai seorang remaja mengenai penghidupan, cinta, dan ketulusan hati. Namun, semua akan berubah, saat seseorang datang dan merubah sudut pandang kita, mencairkan hati yang sempat membeku akan sebuah perasaan kasihan terhadap orang lain. Dan aku tak akan pernah sama.
Aku terduduk diam, pandangan mataku menerawang jauh sembari membuka kenangan berharga dimasa lalu itu, masih terekam jelas dalam benakku seberkas pengalaman yang masih hangat dan tak tersamarkan oleh sang waktu. Ibu duduk terngiang; diam tanpa sepatah katapun terlontar dari bibirnya yang gemetar. Matanya jauh menerawang langit kelam, sekelam hatinya. Jiwanya masih nelangsa. Bahkan, setelah empat hari keputusan pahit itu diambil,  Ibu masih saja mengharu biru tatkala mengenang apa yang terjadi. Dibenaknya melayang beribu kemungkinan yang membuat hatinya terperih. Aku masih memandang Ibu tanpa berkata apapun. Lidahku kelu, mulutku terkunci rapat. Tak ada satu patah kata pun terlontar dari bibirku. Inilah kesedihanku yang mendalam; melihat sosok wanita yang melahirkanku terisak tangis. Berhenti bekerja memang bukan perkara yang mudah bagi wanita karir yang telah 19 tahun bergelut dengan pekerjaan yang ia cintai. Namun, pemberhentian Ibu dalam bekerja memanglah telah menjadi keputusan akhir yang harus diambil. Kantor dinas ayah yang harus berpindah membuat Ibu harus rela mengorbankan pekerjaannya sebagai taruhan. Kegemaran dan keahliannya dalam bidang farmasi memang tak perlu diragukan lagi, tapi apa mau dikata. Kantor dinas ayah yang harus dipindah dari sebuah kota yang ramai, metropolitan, dan penuh akan hiruk pikuk; kota Denpasar ke sebuah tempat di pelosok pedalaman Kabupaten Gianyar tepatnya di Desa      Ketewel. Aku meyakini, google map pun tak akan mencantumkan tempat ini dalam daftarnya. Bagai terpenjara. Tempat ini sangat terpencil, bahkan ironisnya tak ada satu pun tetangga yang bernaung di samping rumah yang nantinya aku tinggali. Rumah ini memang cukup nyaman, namun ukurannya lebih kecil jika dibandingkan rumahku di Denpasar. Aku tak pernah mengetahui bahwa ayah memiliki rumah di daerah terpencil seperti ini. Yang aku tahu hanya, ayah memiliki sebidang tanah di Kabupaten Gianyar selain kampung halamanku. Luas tanah di rumah ini hanya 1500 meter2, berlantai dua, dan tanpa adanya lahan yang cukup hanya untuk sekadar bermain dengan anjing peliharaanku. Perpindahan kami pun dipersiapkan.
Pekerjaan Ibuku memang sangat penting dalam menunjang perekonomian keluarga kami. Namun, saat pekerjaan itu harus direlakan, keadaan perekonomian pun akan menjadi sulit. Disamping itu juga, kakakku sedang menjalani kuliah di Jakarta dan tentunya membutuhkan banyak biaya. Disamping itu juga, aku yang baru lulus SMP dan telah diterima di SMA favorit Kota Denpasar. Biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Dan tentu saja, sebagai seorang kepala keluarga dan hanya seorang diri yang memiliki pekerjaan di dalam rumah tangga bukanlah perkara mudah bagi ayahku untuk dapat membiayai seluruh kebutuhan keluarga kami. Kehidupan memanglah terus berputar bagai roda. Dan kita tidak akan pernah mengetahui kemana sang nasib akan menuntun kita. Keluarga kami mengalami perekonomian yang sulit pada masa ini.
Banyak dari sanak keluarga kami yang memberikan semangat untuk dapat bertahan di tengah kesulitan ini. Termasuk dua sepupuku dengan ayahnya yang notabena adalah kakak dari Ibuku. Hujan sedang mengguyur daerah Ketewel saat mereka berdatangan dengan motor tua mereka. Ya, keadaan keluarga mereka pun lebih menyedihkan daripada keluargaku. Ibuku mempersilahkan dua sepupuku ini masuk tanpa basa-basi lagi, karena baju mereka basah dan keadaan udara yang dingin akan membuat mereka flu nantinya. “Mau teh atau susu?”, tanya Ibuku ramah. “Tidak usah, Tante.”, jawab mereka tersenyum sungkan. Penolakan itu tentu saja tak digubris dan hanya akan menjadi sekadar basa-basi karena Ibuku tetap saja membuatkan mereka susu coklat hangat. Sembari menunggu Ibuku yang membuatkan minuman di dapur, mereka terlihat heran. Heran melihat keadaan rumah kami yang sederhana bagiku namun mungkin saja mewah bagi mereka. Mereka selalu saja memutar dua bola mata hanya untuk sekadar melihat keadaan rumah kami.
Setelah lama berbincang-bincang antara Ibu dan pamanku, tiba-tiba saja saudara sepupu perempuanku itu berkata, “Tante kaya sekali ya!”. Hal itu tentu saja mengejutkanku dan tentunya Ibu. “Ah! Tidak kok, Tante biasa, sederhana.”, tukas Ibuku. “Rumahnya besar, lantai dua, barang-barangnya bagus, punya mobil lagi”, jawabnya polos. Ibuku ternyenyuh mendengar pernyataan sepupuku itu. Hatinya tersentuh akan sebuah perasaan bersyukur. Ibuku dihinggapi semacam rasa bersyukur yang aneh, sebuah perasaan bersyukur dalam dimensi lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ibuku tersadar akan apa arti dari sebuah kekayaan yang sebenarnya. “Ya, akulah wanita kaya.”, bisiknya. Kaya tidak berarti hanya dalam bidang materi. Namun, Ibuku memiliki suami yang selalu mencintainya, yaitu ayahku. Ibuku memiliki dua buah hati yang sedang tumbuh menuju kedewasaan. Ibuku memiliki sebuah atap rumah untuk bernanung. Ibuku memiliki ribuan kekuatan cinta dan semangat dari saudara-saudaranya. Kami kaya, kaya akan cinta dan kasih sayang. Bahkan, materi pun tak dapat menggantikan semuanya. Tak akan dapat.
Setelah hujan mereda, dan saat perut sepupuku dan ayahnya sudah terisi dengan cukup untuk melawan rasa dingin dari sisa-sisa hujan tadi, mereka pun pulang. Aku menoleh lagi ke arah kepergian mereka, diantara kehidupan seseorang yang berlimpah materi, diantara etalase-etalase megah gedung, diantara rasa sedih dan sesal yang pernah kami rasakan, aku menemukan sebuah arti kekayaan sesungguhnya.

CINTA SUDAH LEWAT

           Kukuruyukk.... suara ayam jago berkokok terdengar  da n membangunkan diriku dari lelapnya tidur. Sang Surya telah terbangun dari lelap tidurnya. Pagi yang tak secerah biasanya dengan udara dingin hingga mampu menembus ke dalam kulitku. Deburan ombak menabrak karang hingga angin yang berhembus kencang. Pohon-pohon bergoyang serasa ada hal yang ingin diberitahunya. Burung dengan berkicau dngan merdunya untuk menyemangati langkah ku pagi hari ini tetapi perasaan ini tidak bisa di bohongi. Perasaan gundah gulana atau anak remaja menyebutnya “GALAU”  
            “ mengapa aku sedilema ini ya tuhan?? Ada apa pagi ini?” tanya ku dalam hati dengan mengucapkan doa-doa.
Ketika aku sampai disekolah perasaan janggal ini mulai menjadi-jadi ,entah mengapa perasaan yang tidak biasanya dan ditambah suasana sekolah yang begitu sepi pagi ini. Kelas yang begitu hening tidak seperti biasanya. Hari ini adalah hari dimana pengambilan rapot oleh seluruh siswa. Ternyata perasaan itu muncul ketika penggambilan rapot,dengan hasil tidak memuaskan aku lekas pulang kerumah.
            “Rumah oh Rumah.” Kata ku sambil mengeluh dan membaca sms.
Aku sangat terkejut dengan gaya bahasa sms yang dia kirimkan kepada ku. Perasaan heran ini muncul lagi dan mulai bertanya-tanya. Perasaan yang campur aduk saat membaca sms itu. Rasanya seperti terbang di langit ke tujuh yang di jemput oleh para bidadari cantik. Kata-katanya yang tidak bisa dilupakan dan perhatiannya sungguh sangat menggodaku untuk memilikinya. Ya mungkin ini bertanda namanya perasaan jatuh


cinta. Sungguh aku tidak bisa memungkiri perasaan ini,perasaan yang buruk dan tiba-tiba hilang begitu saja. Wanita cantik,manis serta lemah lembut itu menggoda diriku lagi yang bernama Ayu. Dari awal teman satu kelompok Mos dan teman curhat,akhirnya perasaan sayang itu mucul sendirinya.
Hari begitu cepat sama halnya hubunganku dengannya lebih dekat.Waktu yang begitu lama tak mempertemukan kita membuat perasaan kangen yang menggebu-gebu rasanya.  Deras hujan yang turun pada malam itu membuat suasana makin menarik,hingga sms tidak dibalas. Akhirnya aku galau lagi tetapi kali ini aku memberanikan diri untuk meneleponnya. Akhirnya telpon itu nyambung dan diangkat. Senangnya hatiku.
“Malam, lagi apa dirimu? Aku tidak menggangu kan?” kataku dengan rasa malu.
“Iya? Ah engga kok.. justru aku menunggu telponmu.” Kata ayu
“Ah yang benar?? Kok smsnya gak dibales ya? Kamu kenapa si? Udah makan belum? Lagidimana?.” Kata ku dengan khawathir.
“Iya...Tadi nganterin mamaku ke swalayan aja jadi gak sempet balas..Maaf ya aku sudah membuatmu khawathir.” Kata nya dengan polos
“Iya deh gak apa.. udah malem, selamat malem ya dan mimpi indah.” Kata ku dengan rasa maluu bangeeeettt.
“Iya kamu juga ya..” Katanya dengan lemah lembut.

            Yampun dengan durasi  07 menit lebih 07 detik itu aku berani menelponnya tetapi perasaan khawatir itu telah hilang. Terbang,terbang,terbang rasanya saat berbicara dengannya. Sungguh tidak akan terlupakan. Seminggu telah berlalu dari dekat dahulunya hingga kini menjadi renggang.Entah mengapa, sms jarang di balas telpon apalagi jarang diangkat.
            “Galaaauu lagi yaaa..” kataku sambil bernyanyi lagu yang paling keren.
            “Ku menunggu ... ku menunggu balesan smsmu itu sampai kapan dirimu membuatku galau ku terdiam dan selalu menunggumu..”  bernyanyi dan menunggu balesan darinya.
            Dua hari aku menunggu balesannya, hingga larut malam tak kunjung juga di balas. Sungguh keadaan yang sangat miris. Tiba-tiba pada pukul 07.07 malam,akhirnya iya membalas sms ku itu. Entah apa yang menarik dengan angka tersebut. Ketika aku membaca sms tersebut,aku terkejut dan langsung menelepon dengan rasa khawathir.
            “Kamu kambuh lagi ya atau Cuma kecapean? Udah makan kan? Udah minum obat?” kata ku
            “ Engga kok hanya kecapean aja.” Katanya dengan polos
            “ Benerkan? Andaikan kamu tau apa yang aku rasakan disini.” Kataku dengan misterius
            “Iya benar  kok..” katanya
            Aku sangat heran degannya,sikapnya yang begitu berubah denganku sangat dingin. Mungkin dia telah lama menunggu dan akunya tidak terlalu cepat mengungkapkanya.Seketika ada sebuah pesan yang membuat aku terkejut,dilema dan sedikit kecewa.Pesan yang dikirm oleh salah satu temanku itu sangat membuat aku jatuh dalam dunia yang kelam. Ternyata aku tak menyangka bahwa sahabatku sendiri sangat menyukai Ayu dan aku tak bisa berbuat apa hanya yang terbayang bagaimana cara membuat dia bahagia. Perlahan mulai perlahan aku mengikhlaskan ayu. Dan membantu sahabatku dekat dengannya. Walau rasa sedikit tidak ikhlas tetapi itu harusku jalani agar Ayu merasa bahagia nantinya.
            “Kuingin marah melampiaskan tapiku hanyalah sendiri disini inginku pada siapapun bahwa diriku kecewa.” Ya hanya lagu kecewa yang sedang cocok dengan hatiku ini. Mendengarkan lagu ini seakan mampu menghilangkan rasa sayang dengannya. Namun aku tau bahwa dia suka denganku tetapi aku tidak ingin merusak persahabatanku yang aku ukir sejak lama. Lebih baik mengalah demi kebahagian mereka. Padahal tanggal sudah ku persiapkan untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Sangatlah bodoh pikiranku,aku membantu sahabat yang sudah menusuk dari belakang dan jadiian pada tanggal yang aku tunggu. Betapa sakit yang aku rasakan pada saat itu. Hancur lebur yang terjadi, tetapi persahabatan itu aku tidak akan rusak karena satu hal.
            “Tuhan mungkin memang bukan jodohku tapi semoga mereka bahagia dan jika ia jodohku pertemukan kami kembali ya tuhan.” Doa ku dalam hati.
            Tersakiti sudah biasa bagiku namun kali ini aku terus berharap dan berharap jika dia jodohku maka pasti kembali. Aku sangat percaya tuhan sudah merencanakan sebuah kejutan dalam hidupku nanti, dan  selalu mengikhlaskan yang bukan rejeki kita. Dengan prinsip seperti itu pastinya aku bisa kuat untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Malam ini malam yang kelam semua kenangan itu berubah menjadi pahit. Akan ku kenang untuk selamanya karena berteman sudah cukup bagiku dan kenangan kita berdua adalah kenangan yang paling indah.

SOSOK PENENANG JIWA

             Waktu tak bisa dihentikan. Tuntutan pekerjaan memaksa untuk segera diselesaikan. Suara detik jam turut menjadikan suasana semakin mencekam. Entah sudah berapa keluhan yang keluar dari mulutku, entah sudah berapa kali air mata yang aku buang percuma karena tidak kuat menahan semua beban tugas ini. Ingin rasanya aku berteriak kepada dunia, supaya mereka tau bagaimana susahnya di posisiku. Keadaan ini sanggup membuat aku menjadi seorang gadis yang labil. Hingga akhirnya, setiap orang yang berbicara kepadaku, kutanggapi mereka dengan ketus. Setiap pelajaran yang kuterima, seakan-akan tidak diserap dengan baik oleh otakku. Aku kesal, marah, resah, dan lelah akan semua ini. Disaat seperti ini, hanya ia satu-satunya pelabuhanku. Kuceritakan semua kekesalanku padanya, kuluapkan semua kejenuhanku padanya. Walau hanya isak tangis dan air mata yang ku keluarkan, namun aku yakin, ia bisa mengerti semua masalahku.
 Nathan, hanya sosoknya yang dapat menenangkanku. Ribuan kalimat ajaib terlontar dari mulutnya. Dan seakan terhipnotis, semangatku mulai membara. Segala beban hilang seketika jika ia turut menemaniku melawan hari demi hari. Dan pada akhirnya, berkat semua dorongan serta perhatian yang tak henti-henti darinya, aku mampu keluar dari segala beban tugas organisasi maupun tugas sekolah selama ini. Aku sangat menyayanginya.
“Makasi, ya. Berkat kamu, semuanya udah selesai!” ucapku padanya.
“Ah, gapapa, kok. Kan kita harus saling nyemangatin.”ucapnya sambil tersenyum. Senyum itu bagaikan sengatan listrik yang menjulur disekujur tubuhku. Aku tak ingin kehilangan senyum itu.
“Oh ya, besok  aku ada rapat. Jadi pulangnya kita nggak bisa bareng-bareng.” Tambahnya.
Sejenak aku sedikit kecewa, tapi akhirnya aku mengangguk juga. Dan kemudian, kami berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Keesokan harinya, seperti biasa, suasana Trisma dipenuhi oleh hiruk pikuk anak-anak yang menuntut ilmu. Atau mungkin sebagian hanya ingin bertemu dengan teman-temannya. Tapi, kali ini terasa ada yang beda dari biasanya. Seperti ada yang kurang. Setelah berfikir sejenak dan meyakinkan diri, akhirnya aku tersadar. Sejak istirahat pertama tadi, mataku tak menemukan sosok yang selalu aku rindukan. Setiap sudut kantin ak jelajahi, tetapi nihil. Tak ada wajah yang selalu menghiasi hari-hariku itu. “mungkin dikelasnya.”pikirku.
Jam pelajaran akhir pun selesai. Aku meregangkan otot-otoku yang kaku tadi, sungguh bosan mendengar guru berceramah panjang lebar. Setelah itu, aku menunggu kedatangan Nathan. Namun sampai kelas sepi pun ia tak kunjung datang. Aku bosan jika terus begini. Maka dari itu kuputuskan untuk mencarinya dikantin. Dan sesampainya di kantin, sama sekali tak terlihat wajah tampannya. Aku sudah putus asa, hingga akhirnya aku terpaksa pulang dengan perasaan yang putus asa.
Sampai di rumah, ku rebahkan tubuhku di ranjang. Menatap langit-langit dan larut dalam lamunanku. Kemana dia? Kenapa tidak menemuiku? Aku tak lupa jika ia ada rapat hari ini, tapi setidaknya ia bisa menghampiriku ke kelas walau hanya mengucapkan “daah, hati-hati dijalan, ya!”. Seketika rasa nyilu menyerang dadaku. Tanpa bisa menahannya, air mataku meluap. Mengungkapkan segala kegundahanku. Tak sanggup menahan kesedihan itu, aku pun terlelap dalam tidur.
“drrrrt drttttt drttttt”
Handphoneku bergetar. Sedikit terkejut, aku bangun dari tidurku. Kulirik jam dinding, ternyata sudah jam 4 sore. Kulihat pada layar handphoneku, nama Nathan tertera pada layar.

“Ya, hallo?”ucapku setengah sadar.
“maaf, aku baru ngabarin. Ak baru pulang, tapi sebentar mau ke rumah Mila. Ngerjain   proposal.”ucapnya.
Aku mendengus kesal. “oh yaudah deh, daah.”ucapku mengakhiri obrolan.
Mulai saat itu, aku sudah semakin jarang melihatnya. Sering tak ada kabar dan kurasa ia sangat sibuk. Aku merasa sangat kecewa dengannya. Kenapa ia bisa bersikap seperti in? apakah aku tidak penting dimatanya? Entah sudah berapa kali aku menangis. Aku kesal padanya, aku tidak terima jika ia lebih mementingkan pekerjaannya. Suatu hari, aku mogok bicara padanya. Aku ingin ia sadar bahwa aku butuh waktunya sedikit saja. Yang dipikiranku, ia sudah berubah. Ia bukan Nathan yang ku kenal dulu. Tak ada lagi senyum yang selalu aku rindukan. Semuanya sirna. Semuanya hancur. Aku benci padanya.
Sampai akhirnya, ia menyadari sikapku. Ia terus berusaha menanyaiku. Tapi aku tetap diam membisu. Sungguh rasanya aku kesal sekali. Seharusnya dia sadar jika aku sangat membutuhkannya waktunya walau sedikit saja. Tapi nyatanya apa ? Ia malah marah-marah kepadaku.
“kamu ini kenapa, sih? Marah nggak jelas! Males aku kalo kaya gini!”ucapnya.
“hah?  Marah nggak jelas? Semua ini gara-gara kamu tau! Kamu nggak pernah ada waktu lagi buat aku. Kamu jahat!” Kataku seraya meninggalkannya. Wajahku terasa sangat panas. Aku tak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi ingin meluap keluar.
Sudah dua hari sejak kejadian itu. Aku sama sekali tidak berbicara sedikit pun dengannya. Ada perasaan rindu yang selalu mengoyak hatiku. Sekelebat peristiwa di masa lalu muncul silih berganti. Memperlihatkan betapa pedulinya ia padaku. Betapa banyak waktu yang ia korbankan hanya untuk diriku. Bersamaan dengan itu aku tersadar. “Aku yang egois! Aku yang nggak ngerti perasaannya dia! Aku yang nggak peduli sama dia!” teriakku. Aku berjanji, besok aku akan menemuinya. Tak bisa ku ingkari, aku sangat merindukannya. Betapa bodohnya aku sampai-sampai aku menyia-nyiakannya. Betapa egoisnya aku sampai-sampai membuatnya menderita. Aku sangat mencintainya, hanya dia yang aku inginkan. Aku tak bisa apa-apa tanpa dia.
“Nathan, aku mau bicara.” Ucapku sesampainya aku disekolah keesokan harinya.
“apalagi? Kamu mau marah-marah lagi? Aku nggak ada waktu!” jawabnya ketus.
“bukaan! Maafin aku! Aku udah buat kamu sedih. Aku egois! Kamu selalu ada saat aku perluin. Tapi aku? Aku Cuma bisa ngeluh dan marah-marah aja saat kamu lagi butuh aku. Maafin aku. Aku menyesal sekali. Aku ingin kita balik lagi kayak dulu. Aku kangen banget sama kamu!” kataku terisak karena tak kuasa menahan tangis.
Seketika suasana jadi sunyi. Aku takut jika ia tak mau memafkanku. Aku takut jika aku akan kehilangan ia untuk selamanya. Tiba-tiba Nathan memelukku pundakku.
“sudaah. Aku tau kok kamu kesepian. Aku juga minta maaf, aku lagi sibuk ngurus programku. Mungkin aku jadi sedikit jarang bareng kamu. Aku mohon kamu bisa ngerti ya.”ucapnya halus.
Tak ada kata yang sanggup keluar dari mulutku. Hanya anggukan kecil yang dapat aku lakukan. Betapa bodohnya aku membenci laki-laki seperti dia. Apa yang bisa aku lakukan tanpanya? Dia lah yang paling mengerti aku. Terima kasih pun tak luput aku panjatkan ke Tuhan sebab aku telah diberikan anugrah yang sangat indah dan harus kujaga. Karena dengannya, aku bisa melakukan apa saja yang tak pernah aku sangka sebelumnya.

Puncak Pertama

             Suara bising terdengar dari segala penjuru. Meja dan kursi tak berada ditempat yang seharusnya. Seperti kapal pecah! Yah, itulah kelasku ketika tidak ada guru yang mengajar dikelas.
“Temen-temen, ada pengumuman nih dari Pak Merta tadi, tolong dong tenang dulu!” teriak Yogi, si ketua kelas. Para penghuni kelas langsung menghentikan semua kicauan mereka dan mendengarkan Yogi.
“Kata Pak Merta, kelas XI-nya tanggal 17 ini mendaki ke Gunung Abang. Terus untuk pembayarannya bisa dibayar mulai besok di bendahara!” sambungnya.
Setelah mendengar pengumuman itu, suasana kelas kembali seperti pasar umum. Semuanya semakin seru membicarakan rencana mendaki ke gunung.
“Kok semua orang semangat banget sih baru mau mendaki gunung?” ucapku pada Marina, teman sebangkuku.
“Jelaslah, Regi. Mendaki itu kan seru banget. Emangnya kamu nggak seneng mendaki?”
“Bukannya nggak seneng. Cuma, setiap mendaki gunung, aku nggak pernah bisa sampe dipuncaknya,” terangku
“Ayolah, Regi. Semangat dong! Masa sama gunung aja kalah. Kalo niat, pasti bisa. Kamu harus ikut pokoknya. Titik!”
“Iya deh, aku ikut. Tapi, nanti pas udah mendaki, kamu harus bareng sama aku ya. Aku jangan ditinggal. Aku bukan anak gunung kayak kamu, jadi nggak bisa cepet-cepet,”
“Siapa bilang aku anak gunung? Tapi tenang aja, aku bakalan tungguin kakimu yang lelet buat naik ke puncak gunung,” ledek Marina.
“Adooh.. ribut aja kerjaan dua orang nih,” Ika tiba-tiba datang ke arah kami.
“Nggak ribut kok, cuma debat aja. Hehe,” sahut Marina
 “Ika, nanti pas mendaki gunung, kamu harus bareng sama aku ya! Marina jelek nih, aku nggak mau diajak,”
“Iiih.. boong banget Regi nih,” ucap Marina.
“Udah deh, kita naiknya bareng-bareng aja nanti. Gitu aja repot banget,” sela Ika
“ Oya, jangan lupa bawa kamera DSLR-mu ya! Biar bisa fotoan pas sampe di puncak,” aku menepuk pundak Ika.
“Tenang aja. Tapi, kamu yakin bisa sampe puncak, Reg?” Ika seolah nggak percaya.
“Iiih.. Kok semua jadi nggak yakin sama kemampuanku sih?”
“Bukannya gitu. Tapi, inget nggak waktu kita mendaki ke Gunung Batur? Belum juga sampai puncak satu, kamu udah turun duluan,” ledek Ika
“Neh, kan. Apa kubilang! Kakimu tuh emang lemot,” tambah Marina.
Aku jadi merasa di bully mendengar kedua temanku berkata begitu. Okelah, kuakui kalau aku memang tidak pernah “kuat” berjalan ditanjakan panjang seperti gunung. Tapi, akan kubuktikan pada mereka kalau aku bisa!
***
Dan hari itupun tiba. Seperti biasa, kalau mendaki, pasti berangkatnya dengan truk. Biarpun begitu, semangat orang-orang didalam truk nggak surut. Suasana kebersamaan sudah terasa ketika kami kompak bernyanyi dan bercanda selama perjalanan. Dan aku harap, semangatku masih seperti ini ketika mendaki.
Setelah kami tiba, kini saatnya untuk memulai pendakian. Sudah kuduga, Marina Si Anak Gunung yang semangat pasti sudah berjalan duluan. Kini hanya tingal aku dan Ika yang berjalan perlahan menuju puncak untuk menghemat tenaga.
“ Semangat banget ya Marina. Biarpun kecil, tapi dia udah jauh banget didepan,” cetusku
“ Kamu kan juga kecil, Reg. Harusnya bisa dong kayak dia,” tukas Ika.
Ya, aku memang kecil, tapi kan tiap orang beda-beda. Marina itu memang seorang atletik. Lalu aku? Hanyalah siswa biasa.
Semakin lama berjalan, kakiku semakin pegal. Apalagi jalan digunung itu nggak kayak di jalan raya yang mulus diaspal. Dan ternyata nggak cuma aku yang mulai lelah, tapi Ika juga mulai memelankan jalannya dan mengeluh. Namun, semuanya jadi berubah ketika ada rombongan siswa lainnya yang lewat dan mengajak kami untuk lanjut.
Karena semakin ramai anggota rombongan, akupun nggak merasa telah terpisah dari Ika. Dan semakin lama, jalur pendakian semakin sempit dan menyeramkan. Semua orang yang tadinya aku ajak berjalan semakin terpencar. Aku jadi semakin takut, bahkan aku nggak berani menoleh kearah lain kecuali memperhatikan jalan. Dan yang membuatku semakin takut, yang berjalan bersamaku didominasi oleh siswa laki-laki yang tidak aku kenal. Tapi.. tunggu dulu. Salah! Bukan semuanya yang aku nggak kenal. Tapi ada satu yang aku tahu. Dia adalah Jo.
Baiklah, Jo adalah teman yang nggak sekelas denganku. Menurutku, dia orang yang menarik dan juga mungkin baik. Tapi, sepertinya dia nggak mengenalku. Okelah, aku tebak ini akan membosankan karena nggak ada yang bisa aku ajak ngobrol selama perjalanan. Bisa-bisa aku nggak jadi sampai puncak lagi.
“ Masih lama nggak ni jalannya, Bro?” ucap seorang siswa laki-laki yang berjalan paling depan kepada teman-teman dibelakang.
“Kayaknya masih. Udah, jalan aja terus,” sahut Jo
“Siapa yang paling dibelakang, Jo? Kayaknya kita makin sedikit aja,”
Jo lalu menoleh kebelakang. “Regina yang paling belakang,”
Mendengar ucapan Jo, aku jadi kaget. Nggak, ini kaget yang dobel. Yang pertama, ternyata aku orang yang jalan paling belakang dan aku adalah cewek. Yang kedua, ternyata Jo mengenalku. Untuk siswa tertutup sepertiku, ternyata ada juga orang seperti itu yang mengenalku. Memang, aku dulu pernah berbicara dengan Jo sewaktu kelas X. Tapi itu sudah lama sekali. Dan dia masih mengingatku. Kukira itu hanya percakapan singkat saja.
Mungkin, setelah Jo menyadari bahwa seorang cewek yang paling belakang, ia lebih memelankan jalannya. Dan nggak cuma itu, dia juga banyak membantuku ketika melewati jalur yang sulit dilewati. Seperti yang ada didepanku ini, seperti tangga yang sangat besar. Aku nggak bisa ngelewatinnya. Dan yang membantuku adalah, Jo.
“Sini aku bantu, Reg,” Jo mengulurkan tangannya
“Iiiya,” jawabku pelan. Kemudian Jo berjalan dibelakangku. Sekarang bukan aku yang paling belakang. Namun, jika ada jalur yang sulit, Jo akan kembali menolongku dan berjalan didepanku.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya hampir sampai dipuncak. Dan kini adalah jalur sulit yang terakhir. Dan lagi-lagi, Jo membantuku. Namun, setelah itu aku mendengar ada yang memanggil namaku dari tempat yang nggak jauh. Ternyata itu Marina.
“Reginaa! Tunggu aku,” teriaknya dari belakangku.
“Lho? Marina? Kok kamu bisa ada dibelakangku? Aku kira kamu udah di puncak,” heranku
“Yee.. tadi aku dapat istirahat bentar. Terus aku juga tadi lihat kamu lewat. Tapi kamu nggak lihat aku sih,”
“Hehe maaf. Aku ngeri sama jalur kayak gini. Nggak berani tolah-toleh deh,”
“Iya, kamu nggak berani tolah-toleh. Soalnya daritadi dibantuin dan jalan sama.... Jo!” Marina mengucapkannya dekat telingaku.
Yah, Marina mungkin benar. Dia adalah teman curhatku. Dia tahu semuanya tentangku. Termasuk yang menyangkut Jo. Dulu memang aku sempat nge-fans dengan Jo. Tapi aku nggak nyangka sekarang dia bisa membuatku mendaki sampai ke puncak untuk yang pertama kalinya. Terima kasih, Jo.

DILEMA, ANTARA KAU DAN DIA

           Senin pagi ini cerah sekali. Walaupun seperti itu aku tetap bersiap ke sekolah dengan malasnya. “Ulangan, aduh.. ckckck” keluhku. Seperti biasanya aku berangkat ke sekolah pada pukul 06.45, tepatnya lima belas menit sebelum bel sekolah berbunyi. Yah, begitulah jiwaku, masih ku anggap sebagai jiwa para murid. Setelah sampai di sekolah, berat langkahku menuju kelas. Lalu kulihat teman – temanku membawa sapu, tersadar aku akan sesuatu. “Oh iya, aku piket hari ini!” sambil menyerngit aku mengambil sapu dan membersihkan depan pintu kelas. Deny bertanya “Dhina, sapu yang disebelah sana. Yang bersih ya”. Cuma mendengar itu saja aku sangat kesal, tapi ya sudahlah. Aku juga salah datang kesiangan. Tak lama kemudian, sosok laki – laki menghampiri kelas. Entah mengapa walau tak asing bagiku, tapi inilah yang masih tak bisa ku pahami. Jantungku berdetak cepat, tingkahku menjadi rancu tak karuan. Seperti melihat sesuatu yang indah. Membuat aku refleks tersenyum menyambut pagi laki- laki itu. Tapi lucunya aku, tetap jaim agar terlihat biasa saja. “Selamat pagi Dhina, bagaimana khabarmu? Udah mendingan kan?” tanya laki – laki itu, membuatku tersenyum. “oh pagi, udah mendingan kok, hehe” jawabku. Yoga, itulah dia. Temanku yang baik, perhatian. Tenang, di dekatnya. Entah itu suka, duka, tangis, canda, dan tawaku. Awalnya aku sempat sedih, tak bisakah aku memilikinya lebih dari itu? Selalu merasa iri jika ia dekati orang lain. Tapi haruskah aku seperti itu? Aku bukanlah siapa – siapa untuknya. Aku adalah Dhina, temannya. Teman yang menyukainya, mengaguminya, dan mempercayainya. Didepannya biasa, tapi di belakangnya selalu ku rindukan. Tapi itulah yang pasti akan dilakukan oleh segelintir anak remaja sok tahu sepertiku yang mencoba menganalisa perasaan semacam itu.
Setelah bel pulang sekolah, aku, mengajak Dewi, Laras, dan Linda pulang. Tapi karena tugas ekstra Linda dan Laras tak jadi bersama kami. Aku akhirnya pulang bersama Dewi. turun dari tangga sekolah, terlihat Reza menunggu temannya. Reza, cowok yang ku suka, dekat saat dia putus dengan Karista dan membantunya melupakan masa lalunya itu. Jika diingat lagi membuatku merasa bersalah dengan kedua orang itu. Awalnya aku kasihan melihatnya, aku bantu dengan segala caraku. Tapi malah aku yang pernah musuhan dengan Karista hanya karena mereka baikan lagi. Naifnya aku. Setelah menyapanya, awalnya aku kira dia menunggu orang lain. Ternyata dia mengajakku pulang. Akhirnya aku setuju. “bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku. “boleh, kenapa?” jawabnya. “siapa sekarang cewek yang kamu deketin? Kata teman – teman kamu udah punya pacar, siapa?” tanyaku penasaran. “oh, gak ada.” “Dinginnya”, gumamku. “oh iya, ada tugas apa besok?”. “ tugas membuat paper, gimana kelompok kita nih?” ucapku. “gak tahu, coba tanya teman lain”. Kesalnya, tapi aku tersenyum saja. Dingin, pemalu, walau baik dan rajin juga, entah mengapa aku tak dapatkan lebih dari Yoga. Tapi setiap hari mataku selalu saja tertuju pada orang ini. Inilah yang buatku dilema, seperti yang dikatakan kakak sepupuku setiap kali berpendapat ketika aku curhat sebelum tidur.
Dilema itu menjadi sangat dalam ketika saat seseorang mengatakan sesuatu padaku. Saat itu, di Perpustakaan, aku bersama Reza dan teman – teman lain sedang ingin mengerjakan tugas. Tak lama kemudian, mereka mengajakku dan Reza bermain Bingo. Sungguh masa kecil kurang bahagia, ditambah lagi aku tak tahu gimana cara mainnya. Tapi aku tetap mencobanya. Di tengah – tengah permainan itu, aku tidak sengaja menulis kata I Love You di secarik kertas lainnya dan terbang begitu saja tepat dibawah kursi tempat duduk Reza. Awalnya, aku tak menyadari dan fokus pada permainan. Tapi setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku mendapatkan kertas itu dengan tulisan yang asing bagiku. “ I Love You, and i want you too”. Aku tercengang. “Siapa ini? Kenapa dia nambahin kata – kata kayak gini di kertasku”, tanyaku pada Dewi.”Ciah, Dhina.. jangan – jangan Reza lagi.” Setelah lama kuselidiki, aku merasa yakin juga kalau itu adalah ulah Reza. Dari kertas itu jatuh di kursinya saja sudah terbukti kalau yang membuatnya dia. Sekelompok dan duduk di dekat laboratorium setelah kejadian itu saja aku mulai curiga dengan sikapnya yang makin hari makin menjadi pemalu, bukannya dingin. Akhirnya aku juga cerita ke Yoga. “Yoga, aku bingung harus gimana menghadapi seseorang yang malu menyatakan cintanya ke aku.” Anehnya dengan ekspresi ogahnya Yoga menjawab “ siapa itu?”. Aku menjawab “kayaknya sih feelingku bilang si Reza, tapi masa sih cowok dingin kayak gitu bisa suka ma cewek jelek kayak aku.” “kamu itu gak jelek Dhin, kamu tu cantik kok. Mungkin dia malu kali, tapi dia baik dan perhatian, rajin lagi. Jauh berbeda denganku.” “iya sih” keluhku tak ikhlas. Aku menyadari kata – kata yang Yoga bilang, jauh berbeda. Entah kenapa walau aku mengharap itu Reza, hatiku tetap kecewa seakan memilih Yoga, temanku itu. Kata – kata “jauh berbeda denganku” itu selalu ku dengar berulang kali ketika aku bercerita tentang seseorang padanya. Itulah hal yang aku kesali dari Yoga.
Suatu siang yang cerah pada valentine saat pulang sekolah. Coklat yang aku siapkan awalnya untuk Reza, tapi malah bukan untuknya. Saat itu, aku terkejut atas pengakuan seseorang terhadap kertas yang terbalas saat ku tebak itu dari Reza. Ternyata, itu ulah Yoga. Yoga menyadari akan hubungan pertemanan yang kita jalani hingga saat ini membuatnya mundur, karena aku mendekatinya bukan sebagai pemegang perasaan yang lebih dari sekedar pertemanan, tetapi sebagai teman baik. “kau tahu, aku sama sepertimu. Aku berusaha menguburnya dalam – dalam. Kini, aku memang harusnya memilih orang lain, yaitu Reza namun bukan sebagai pelampiasan. Maafkan aku, kawan. Rasa sayangku takkan pernah hilang walau hanya sebagai teman. Aku percaya padamu.” “Reza menyukaimu, jadi cari dia. Jangan menyerah. Aku bisa membantumu”. Kata – katanya benar, aku memanglah menyukai Reza. Mungkin aku hanya goyah dan tak bisa memilah antara seorang teman dan seseorang yang ku suka. Kini, aku tambah semangat sekolah dan semangat belajar karena mereka. Teman dan orang yang aku suka. Yoga dan Reza. Berusaha menjalaninya, karena aku yakin walau dilema diantara mereka, aku tetap merasakan ini selalu. Tenang...

Cerita Ini Belum Berakhir

           Awal aku disini, siapa yang tau aku? Dan siapa juga yang aku tau? Tidak ada. Paling hanya satu atau dua orang kakak kelas yang dulunya berasal dari SMP yang sama denganku. Siapa juga yang akan memperhatikanku? Asalku Gianyar, rumahku Gianyar, SMPku Gianyar, dan keluarga kecilku pun di Gianyar. Aku memiliki dedikasi tinggi untuk dapat ada di sini. Dan mengalahkan sekitar 900 orang yang gagal untuk berebut kursi di sini. Dan tentu saja orangtua ku mengijinkanku untuk bersekolah di sini dengan syarat aku tidak boleh mengeluh berada di kota orang. Kota Denpasar.
Saat MOS saja aku sangat susah mengakrabkan diri dengan teman-teman satu kelompokku. Kebetulan saat itu kakekku meninggal, jadi aku tidak hadir MOS selama 3 kali dan itu membuat anak-anak bertanya-tanya “siapa sih anak Gianyar itu?”.
Rambut terjalin sangat rapi dan poniku kujepit ke atas karena terbiasa dengan keadaan saat MOS yang tidak memperbolehkan siswa baru putri menggunakan poni ke sekolah. Baju besar, dan rok menutupi setengah betisku. Jujur saja, aku masih bisa merasakan terjangan-terjangan tatapan yang tajam kakak kelasku saat MOS itu. Menyeramkan hingga terbawa selama aku duduk di kelas 1 SMA. Takut sekali, tak ada niat sedikit pun untuk mencari suatu masalah atau membuat suatu sensasi di sini.
Sehari menjelang pemilihan Ketua OSIS  baru aku mendengar desisan suara-suara seperti ini di pagi hari,
“Eh aku udah add facebooknya kak Aryawan loo. Tapi belum di konfirmasi.”
Satu persatu teman-temanku menambahkan dia sebagai teman, tetapi setelah lama, permintaan teman mereka tetap diabaikan oleh kakak kelas idaman teman-temanku itu. Setelah sekian lama, aku pun ikut menambahkan dia sebagai temanku di facebook, tapi anehnya dia langsung menerima permintaan pertemananku tanpa aku harus menunggu lama.
            Dan ada lagi tugas dari pengurus ekstrakulikuler jurnalistik di sekolahku, yaitu wawancara OSIS angkatan 33. Anehnya lagi, aku mendapatkan bagian untuk mewawancarai kakak kelas idaman teman-temanku itu.
“Saya sudah pernah bilang sebelumnya, satu salah, berarti kalian semua ikut salah. Jadim ketegasan yang kami berikan adalah kalian harus membuat profil OSIS. Deadline-nya 3 hari” kata seorang kakak pengurus dengan aksen yang sedikit membentak.
Sungguh menyeramkan berhadapan dengan OSIS. Tetapi, apa boleh buat. Hari pertama, aku melihat dari kelas atas dia berjalan menuju arah kelasnya, aku berlari dengan cepat menuruni tangga dan dengan sopan aku bertanya,
 “Permisi kak, saya mendapatkan tugas dari kakak pengurus ekstra untuk mewawancarai kakak, apa kakak...” Belum selesai berbicara, dia sudah memotong pembicaraanku dengan angkuhnya,
 “Cari OSIS yang lain saja!” dan dia pergi.
Sungguh sosok yang dingin, yang sangat susah memberikan senyuman. Dan aku menangis karena aku adalah orang yang paling tidak bisa jika ada yang tidak merespon pembicaraanku.
Deadline tinggal 2 hari lagi, tetapi ia tetap saja menolak untuk aku wawancarai. Hingga kakak-kakak pengurus kami memberikan waktu tambahan. Anehnya ia selalu menampakkan dirinya di depanku, seakan-akan berharap agar aku memohon lagi dengannya dan dia akan menolak untuk aku wawancarai. Tidak hanya di sekolah, di situs jejaring sosial Facebook pun ia kerap mengirimkan aku Chat atau obrolan yang menyangkut pautkan tentang Divisi Trisma, hingga akhirnya aku berhasil dan dia bersedia untuk di wawancarai, tetapi dia memberikan syarat untukku, yaitu aku harus menunggunya hingga ia selesai mendapatkan suatu akselerasi mata pelajaran.
Dengan sangat terpaksa aku merelakan seleksi Debat Bahasa Inggris untuk lomba yang sudah aku lewati satu putaran. Aku menunggunya di depan Lab.Kimia. dengan perut sakit menahan lapar dan maag. Aku lapar, tetapi tidak berani meninggalkan tempat itu agar kakak idaman teman-temanku itu tidak kabur seperti saat-saat sebelumnya. Kurang lebih sekitar pukul setengah 6 sore, dia keluar dari laboratoruim dan aku dengan cepat berlari ke arahnya untuk mewawancarainya. Sungguh dia orang yang aku benci. Tetapi, setelah mewawancarai wakil 1 OSIS itu, aku merasa semakin penasaran dengan kepribadiannya, dengan latar belakangnya, bahkan aku sangat bersikeras untuk melihat senyumnya yang sangat sulit ia pancarkan.
Saat aku mulai santai, namaku dipanggil oleh kakak-kakak OSIS, beserta beberapa orang lainnya. Ternyata kami dipercaya untuk menjadi panitia kegiatan Bulan Bahasa di Sekolaku.. Mungkin hanya kebetulan, atau mungkin ada sesuatu dari semua ini? Lelaki itulah yang sekarang menjadi koordinator OSIS dari acara yang aku pegang, yaitu pameran buku. Otomatis aku akan sering berkomunikasi dengan dia. “apa-apaan ini?” perasaanku tidak biasa, meletup-letup dan bahkan aku ingin tersenyum.
Aku jalani saja, hingga bersemi juga di SMS. Semua kita jalani dengan diam-diam tanpa sepengetahuan orang-orang di sekolah. Bahkan aku merasa dekat dengannya. Aku penasaran, sangat penasaran mengapa ia sangat jarang tersenyum di sekolah. Dan suatu hari ia menyuruhku mencarinya di perpustakaan sekolahku. Katanya ia ingin memberikan senyuman termanisnya untukku.  “Ada apa ini Tuhan?”.
Di sanalah semuanya berawal. Kedekatan kami bukan sebatas kakak dan adik lagi. Tetapi ia berpesan, “Jangan pernah kamu menceritakan semua ini kepada siapapun. Semoga kamu tidak keberatan menjalani hubungan ini dengan kakak” Katanya sambil tersenyum lepas. Sangat manis. Memang ini dilema, aku takut teman-temanku merasa kesal denganku. Karena awalnya aku memang membenci dia, tetapi aku merasa munafik, aku terpesona oleh sosoknya.
Lambat laun kedekatan kami sudah menjadi rahasia umum. Dari banyak yang tidak percaya, banyak yang menghujatku, sakit rasanya mendengar sindiran-sindiran yang keras di telingaku. Tetapi seiring waktu berlalu, semua berubah. Inilah yang disebut indah pada waktunya. Kakak-kakak kelasku semua sudah mulai kurasa bersahabat. Walaupun tidak secara gamblang. Dan aku tetap menghormati mereka sebagai kakak kelas.
Walaupun setiap hari aku dan dia bertemu di sekolah, tetapi sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah aku berbicara dan melihat matanya. Aku tidak berani. Bagaimanapun, ini sekolah. Dan sudah tradisi OSIS tidak boleh memberikan senyuman kepada adik kelasnya. Setelah aku terbiasa, ada yang aneh dari dirinya, dia kerap memberikan senyumannya untukku. Tidak peduli di depan umum. Dia mengaku, semakin lama, rasanya semakin susah untuk tidak memberikan senyumnya kepadaku, bukannya semakin terbiasa.
Aku sadari, dia sosok yang hangat. Tidak seperti awal kedok yang ia gunakan. Dingin. Menyebalkan dan aneh. Kisah ini tidak mengharukan, tetapi lucu walaupun bukan komedi. Seorang Tara bersanding dengan seorang yang bisa dikatakan “tenar” di sekolah. Padahal aku hanyalah seorang perantau yang tidak se”jago” dia dalam banyak hal. Saat ini cerita ini belum berakhir, kisahku di Trisma memang lebih didominasi dengan kisah kasih dengan dia. Hingga detik ini, dan aku harap seterusnya.

Duka Terukir Indah

Rindu kan slalu
            Merasuk dihatiku
Ibu . . .
            Mungkin kata-kata itu kan selalu terbayang dalam benakku. Tak ingin berputus asa, ku tetap melangkah maju. Tetap mengarungi hidup ini, sampai habis waktuku. Masalah apapun harus kuhadapi, meski aku jauh dari kedua penuntun hidupku yaitu orang tuaku.
            Andi, begitu orang sering menyapaku. Aku lahir dari keluarga yang memang kurang beruntung. Namun aku tetap mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku. Karena aku percaya, apapun yang diberikan oleh Tuhan, itulah yang terbaik untukku.
            Terlepas dari semua latar belakang keluargaku. Aku mencoba dan terus mencoba untuk menikmati disetiap hari-hariku. Bercanda, bermain dan lain-lain. itu semua aku lakukan bersama dengan teman-temanku. Dari TK, SD, SMP, dan sampai sekarang saat aku duduk di bangku SMA.
            Beberapa masalah sudah pernah menghampiriku. Masalah yang sering muncul adalah disaat aku terkadang rindu kepada ibu. Mungkin terlihat sepele, karena dengan menemuinya maka rasa rindu pun dapat terlampiaskan. Namun tak terlalu mudah bagiku. Karena aku lumayan sibuk. Terlarut dalam kesibukan sempat membuatku menyesal, karena aku tidak dapat menemui ibu disaat hari ulang tahunnya yang jatuh tepat pada hari ibu. Aku hanya bisa mengirimkan pesan singkat melalui sms.
            “Selamat hari ibu Ma, dan selamat ulang tahun. Semoga Mama sehat selalu dan diberi umur panjang. Maaf Andi enggak bisa ke sana, soalnya tadi ikut ngewayang sama Putra, Ma.” smsku kepada ibu.
            Tak ada angin, tak ada hujan, air mataku menetes perlahan. Merasa bersalah karena aku tak bisa datang. Tangisku semakin pecah disaat balasan sms dari ibu masuk.
             “Iya Andi, makasi ya. Maaf kalau Mama belum bisa menjadi ibu yang baik buat Andi. Mama sayang Andi” balas ibuku.
            Tangis yang pecah seiring dan perlahan mengantarku pergi ke alam mimpi. Dan akhirnya tangisku hilang dan tertidur lelap.
            Kring … kring …alarmku berbunyi. Pagi yang cerah seakan siap menyambutku untuk bangun dari tidurku yang lelap. Secangkir teh manis hangat menemaniku sembari duduk di teras. Baru setengah cangkir terminum, aku segera beranjak mandi karena harus pergi ke sekolah untuk menjaga pendaftaran lomba.
            Sampai di sekolah, aku biasa pergi ke Padmasana terlebih dahulu untuk sembahyang. Tanpa disengaja aku melihat seorang gadis yang sedang berjalan dan cukup lama menyita pandanganku. Yah . . Athe namanya. Saat dia tepat berpapasan denganku, aku sapa dia dengan senyuman. Dia pun menoleh dan membalas dengan senyum manisnya sembari melambaikan tangannya. Hatiku yang awalnya gundah, kini berubah tenang. Mungkin karena senyum manisnya itu, yang seakan meracuni hatiku.
            Seiring berjalannya waktu, kami pun mulai agak akrab. Walau hanya sebatas teman. Yang tak kumengerti, semakin lama perasaanku padanya berubah. Benarkah ini? Aku jatuh cinta pada dirinya. Ingin sekali ku mengenal dia lebih jauh lagi. Awalnya aku ingin meminta nomor handphonenya. Tapi aku malu untuk meminta. Pas di satu momen saat aku dan temanku Adi sedang bermain rindik, aku bercerita bahwa aku ingin meminta nomor handphone Athe. Tiba-tiba tanpa sengaja Athe lewat di samping workshop.
            “Athe . .sini dulu” panggil Adi.
            “Ngapain Di?” tanya Athe.
            Jantungku berdetak kencang sampai keringatku mengucur deras. Aku terkejut dengan aksi yang dilakukan Adi. Aku sudah bilang bahwa aku malu. Tapi apa boleh buat, Athe sudah menghampiriku dan Adi.
            “Ini si Andi mau minta nomor handphonemu” kata Adi.
            “Pakai apa Andi?” tanya Athe.
            “Enggak, ingin tahu aja, siapa tahu nanti aku ada perlu” jawabku santai.
            “Oh iya-iya, sini aku catatin” jawab Athe.
            Senang bukan kepalang hatiku. Saat dia memberikan nomor handphonenya. Sampai di rumah, aku segera mengambil handphone dan mencoba memastikan nomor itu. Dan ternyata itu memang benar.
            Dua bulan berlalu, disinilah kegembiraanku mulai redup. Disaat aku tahu bahwa dia menyukai orang lain. Aku hanya diam seribu bahasa. Mungkin perjalanan cintaku harus seperti ini.
Belum lama setelah itu, aku baru ingat bahwa aku belum membayar SPPku selama dua bulan. Selain itu, tugas sekolah juga sudah menumpuk. Belum selesai tugas yang satu, sudah ada lagi tugas yang lainnya. Aku juga harus latihan operet untuk mencari nilai seni budaya. Belum lagi latihan untuk persiapan PSR dan latihan yang lain.
Aku mencoba tetap fokus untuk persiapan PSR, karena itu adalah ajang yang sangat bergengsi. Aku mewakili Trisma dicabang rindik berpasangan. Saat latihan, terkadang aku kehilangan konsentrasi karena pikiranku terpecah. Terutama masalah Athe, dia selalu hadir dalam pikiranku. Aku ingin meluapkan semua beban yang ada di pikiranku, tapi aku tak tahu harus meluapkannya kepada siapa. Setelah berpikir cukup lama dan aku berdoa supaya diberikan jalan keluar. Terlintas dalam benakku untuk menyatakan isi hatiku padanya setelah PSR usai.
Hari demi hari pun berlalu. Kini PSR telah usai. Hasil kerja keras dari semuanya telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Aku bersama dua orang temanku yang lomba di cabang rindik, berhasil merebut kembali juara. Namun dalam kegembiraan itu, terselimut duka yang cukup dalam. Aku tak bisa memiliki Athe, karena dia telah mencintai orang lain. Tetapi walau seperti itu, aku dan dia tetap berteman, karena sampai sekarang aku masih mencintai dirinya dan masih berharap. Satu kata yang masih teringat dalam benakku yang dia ucapkan padaku. “Aku bukanlah yang terbaik buat kamu Andi, . . maaf..”  

MESIN PEMBUNUH

Bintang-bintang nampaknya sudah hilang satu per satu kembali keperaduannya, tapi kami masih disini, menunggu sebuah pencapaian yang kelak akan membuat kami bangga.
            Akhirnya Goresan pena yang kami tuangkan dalam bentuk majalah, meraih juara II lomba Majalah sekolah terbaik seBali. Walau sebelumnya kami dibuat kesal oleh panitia penyelenggara lomba, yang melonggarkan jam acara. Namun senyum mentari mengawali perjuangan kami hingga bulan hilang dimakan waktu. Dan esok kamipun harus kembali kedalam hiruk piruk dunia pendidikan, meski kami merasa sangat lelah karena ini sudah lewat tengah malam. Kami pun membuat kesepakatan untuk datang ke sekolah lebih siang dari biasanya.
            Aku pun pulang dengan perasaan senang dan berharap besok akan disambut gembira oleh teman-teman dan para guru di sekolahku. Keesokan harinya aku datang saat jam pelajaran pertama usai, kebetulan saat itu aku mendapat pelajaran matematika yang diajar oleh pak Dewa. Tapi coba tebak apa hasil pengorbananku dan teman-teman semalam. Aku yang telah berkorban untuk memperjuangkan nama baik sekolah di hina dan tidak di hargai oleh pak Dewa yang membenciku sejak awal. Teman-teman sekelasku pun menceritakan apa saja yang terjadi barusan. Pak Dewa mengataiku “sombong, angkuh, manja, priyayi !!” dan masih banyak lagi kata-kata yang terlontar dari mulutnya yang membuatku tertekan dan rapuh. Aku tak tahu apa salah ku kepadanya. Jika aku mengingat hal ini rasanya aku dibawa kembali ke masa lalu ku yang suram, episode hitam dua tahun lalu yang menyebabkan mengapa Pak Dewa sangat membenciku.
            Saat itu aku adalah murid  kelas VII yang baru saja masuk di sekolah ini, aku merupakan salah seorang anggota dari salah satu keorganisasian yang ada di sekolah, dan pada saat kami melaksanakan suatu kegiatan. Aku memberanikan diri mengendarai dan memasukkan motorku ke dalam sekolah karena biasanya aku melihat kakak kelasku melakukan hal itu. Namun yang terjadi bertentangan dengan pemikiranku. Aku di jegat oleh pak Dewa di halaman depan. Cacimakinya membuatku malu. Kakak kelas, teman dan orang-orang sekolah seakan melihat “bioskop spontan”. Tragedi adu mulut dan saling membela diri pun terjadi antara aku dengan pak Dewa. Fantastis!!! Aku sangat berani dan tanpa berpikir panjang emosiku mengelunjak untuk terus berusaha mempertahankan ambisiku kalau apa yang aku lakukan ini benar. Pak dewa mengancam akan memukul dan mengeluarkanku dari sekolah. “Stop! Sini kamu dulu! Baru kelas VII udah berani bawak motor ke sekolah!” bentaknya. “Biasanya juga gak ada yang melarang ! kakak kelas juga banyak bawak motor pak!” sahutku. “Berani macam-macam kamu sama saya ? Kamu mau saya pukul ?!” bentaknya lebih keras. “Harus mukul pak ? saya bisa lapor bapak ke polisi!” Jawabku ikut membentak. “Silahkan keluar dan cepat pulang !” Galaknya dengan sangar. “Ya saya pulang sekarang!” dari sinilah tragedi bersejarah ini dimulai.
            Hari pun berlalu dan berganti lagi. Akhirnya tiba saatnya hari penyerahan piala kemenangan majalah itu. Dari rumah aku sudah bersemangat untuk menyerahkannya kepada kepala sekolahku. Namun nasib berkata lain, saat itu. Lagi dan lagi pak Dewa lah yang menjadi pembina upacara, karena kepala sekolah kami ada rapat penting di suatu instansi di kota kami. Aku pun tak heran. Pak Dewa memang salah seorang yang memiliki jabatan penting di sekolahku. Kesal, emosiku terasa sudah menusuk urat nadiku yang mulai mengkaku ini. Aku sangat tidak ingin menyerahkan simbol kemenanganku, kepada orang itu! Saat namaku disebut MC untuk menyerahkan piala, aku dihadapkan pada dua pilihan dan situasi kritis. Maju atau harus tetap berdiam di barisan. Tapi aku ingat, pembina majalah kami pasti sudah siap dengan senyum sumbringahnya dan standing applous yang keras untuk kami. Aku harus menjaga hati dan perasaannya. Walau berat dan setengah hatiku tuk melakukannya. Dengan terpaksa aku maju dan harus menyerahkan penghargaan itu kepada Pak Dewa. Mungkin pak Dewa memiliki banyak opini tentangku yang membuatnya selalu ingin mempermalukanku dimanapun selama ia bisa. Tangan kami sudah saling bersentuhan, saat menyematkan salaman tanda selamat. Ia seakan-akan tidak mengenalku di sekolah ini. Kata-kata manisnya terucap saat aku menyerahkan piala kepadanya. “Selamat kepada tim majalah kita, kalian memang anak-anak yang patut dibanggakan” lontarnya dengan pandangan dan nada sinis ke arahku. Namun ucapan yang terucap dari mulutnya saat peristiwa sehari setelah kami meraih penghargaan itu. Bagaikan bumi dan langit yang mungkin tidak akan pernah bertemu.
            Jam demi jam berlaku dan akhirnya menjadi hari. Bu Amy, seorang guru yang sangat dekat denganku. Hanya tertawa saat kuceritakan insiden itu. Namun Bu Amy selalu mengajarkanku sabar dan tegar. “sudaah santai sajaa... tetaplah tersenyum walau itu dengan orang yang tidak kau sukai” kata-kata yang  selalu kudengar darinya ketika aku sedang dihampiri masalah seperti ini. Pahit manisnya keadaan telah ku rasakan disekolah ini. Mungkin pak Dewa menyimpan dendam pribadi kepadaku sehingga menyebabkannya selalu sentimen dan mencari kesalahan kecilku untuk ia besar-besarkan. Bahkan ia ibarat mesin yang tak berperasaan yang berusaha membunuhku dengan kewenangannya memvonis jumlah nilai matematika yang akan aku dapat di rapor nanti. Sungguh kekanak-kanakan sifatnya. Namun hal itu tidak menyurutkan niatku  untuk tetap belajar. Malah aku jadi tambah bersemangat dan berusaha untuk mengukir nilai sebesar-besarnya dan seindah mungkin di raporku nanti.
            HAA... HAA... Guru Matematika gila, mungkin itu sebutan yang paling pantas untuknya. Matematika = Makin Tekun Makin Tidak Karuan. Tepat! Aku harap, makin lama ia hidup, maka makin tidak karuanlah hidupnya. Inilah doa dari muridmu yang sangat “menyayangimu” ini pak.
            Sudahalah. Yang dulu biarkan lah berlalu. Andaikan seorang pendaki “semakin tinggi engkau melangkah maka semakin kencang angin yang menerpamu” dengan bertambahnya usia, maka tantangan dan cobaan hidup juga akan bertambah sulit. Mungkin ini peribahasa yang paling tepat mewarnai perasaanku saat ini. Aku yakin dan percaya, tiba saatnya nanti aku akan tertawa melihat orang berdosa yang pernah menyakitiku menjadi seorang pecundang di depan mataku. Aku akan berusaha untuk selalu memaafkan orang-orang yang pernah melukai hatiku. Karena dimaafkan bukan berarti dilupakan.

24 Oktober 2011

       Seperti halnya musim hujan dan kemarau, kata kehidupan dan kematian sama kontrasnya dengan dua jalur dalam hidup.  Kata ibuku waktu yang paling dekat dengan kita adalah kematian, karena kita tidak akan  pernah tahu kapan Tuhan memanggil kita pulang ke tempatnya.Yah, beginilah yang namanya hidup, takdir dan nasib sudah ada di tangan Tuhan.Bagiku hal yang paling mengesalkan dan menyedihkan adalah saat kita kehilangan orang  terdekat, terlebihnya jika masih ada hubungan saudara. Rasa sedih yang aku rasakan sangat mendalam karena orang yang aku sebut paman tersebut sudah tiada.
Kisah ini berawal saat aku duduk di bangku SMA pada saat semester satu. Hal yang tidak aku sangka terjadi, yaitu saat pamanku meninggal dunia. Pamanku yang kusayang kakak dari ayahku, tepatnya pada tanggal 24 Oktober 2011 ia sudah tiada. Ini bermula dari sakit jantung yang menyerang tubuhnya. 3 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku masih belajar di bangku SMP kelas satu, dokter sudah memvonis bahwa beliau terserang penyakit jantung. Disarankan agar ia beristirahat yang banyak, akan tetapi karena pamanku suka ber-olahraga ia berupaya mengurangi penyakitnya dengan bersepeda dan mendaki gunung. Hingga suatu saat, ketika  ia mendaki Gunung Bromo bersama rombongan teman-temannya, serangan sesak di dadanya kumat, segera teman-temannya mengangkut pamanku ke bawah kaki gunung  menuju mobil. Dari kejadian itu ia mulai sering menjalani rawat-inap di rumah sakit.Pada awalnya aku sering berkunjung ke rumah sakit, karena saat itu merupakan liburan kenaikan kelas yang berjalan selama satu bulan lamanya. Tetapi saat kelas tiga SMP, aku mulai jarang berkunjung ke rumah sakit dimana pamanku di rawat. Entah mengerjakan tugas sekolah, mengikuti kursus dan yang paling jelas dialami oleh anak – anak  kelas tiga SMP yaitu mengikuti Ujian Nasional(UN). Setelah berlalunya Ujian Nasional dan penerimaan ijazah, kondisi fisik dan stamina pamanku  membaik. Aktivitasnya dapat berjalan seperti biasa. Olahraga kesukaannya pun tetap ia jalani, seperti mendaki dan bersepeda. Akupun senang melihat kesehatannya membaik. Pada setiap upacara dan odalan di kampung, aku selalu melihatnya dengan keadaan sehat, bahkan seakan – akan ia nampak tidak sakit. Waktu berkisar lama sekitar sembilan bulan hingga tidak ada kabar dari saudara – saudara mengenai pamanku. Hingga kali ini, aku mendapati berita mengenai pamanku, bukan untuk yang kedua maupun ketiga kalinya dan entah untuk yang keberapa kalinya pamanku diharuskan untuk mengikuti rawat inap di rumah sakit. Ayahku jadi sering menemani paman mengikuti cek lab hingga cuci darah dan lebih sering tidur di rumah sakit untuk mengontrol. Satu, dua, tiga hari baik – baik saja, hingga hari keempat kondisinya semakin kritis. Ketika di rumah sakitpun kondisinya kian puruk tanpa perubahan fisik maupun mental. Selang yang menjalar di sekujur tubuhnya hanya dapat membantu pamanku untuk bertahan hidup. Secara garis besar, kata dokter hidup pamanku saat itu sudah tidak panjang lagi. Jika selang infus yang terdapat di tubuhnya tersebut di cabut maka hidupnya pun akan tercabut. Jika hidup tercabut, rohnya pun binasa dan jika roh tersebut binasa beliau akan pergi untuk selamanya.  Ketiga putri pamanku kurang bisa merelakan ayahnya, apalagi jika infus tersebut dicabut. Sedangkan bibiku hanya bisa pasrah dengan yang diatas. Sayangnya, ketika itu aku tidak berada di rumah sakit, hingga aku tidak sempat melihat paman untuk terakhir kalinya. Pada keesokan harinya, aku diberitahu ibuku jika pamanku sudah meninggal. Aku menangis saat mendengar kabar duka tersebut. Tidak pernah terbayangkan di benakku jika pamanku meninggal begitu cepat.Bergegas aku dan keluargaku pergi ke kampungku, aku tahu secepat apapun aku pergi, dia tidak akan bangkit kembali.
Dari pengalaman inipun bisa aku lihat bahwa kesehatan adalah prioritas utama dalam hidup.
“The first wealth is health”-Ralph Waldo Emerson.
Kekayaan utama adalah kesehatan.

Tanggal 24 Oktober 2011, pukul 10 : 04 merupakan hari yang paling sedih bagiku sepanjang tahun 2011 ini. Hari dimana pamanku meninggal dunia. Semoga engkau diberkati Tuhan dan dapat diterima disisinya dengan tenang.